MENU
Silahkan klik pada tombol menu yang diinginkan:

Basic (KIHON) pada saat ujian kwartal di DKI 2004
Kirimkan berita, pengumuman dan acara yang akan dan telah berlangsung di daerah anda ke email redaksi.
|
SUARA SHIHAN
CUPLIKAN OSHI SHINOBU KWARTAL III / 2005
TOP DOWN & BOTTOM UP
(Tulisan ini khusus secara tajam membedakan antara
Landasan Dasar Pandangan hidup Bidang Bisnis –
Perusahaan Besar,Ormas,Orpol dan Landasan Dasar Sebuah
Perguruan Senibeladiri.Bukan besarannya,tetapi
Falsafahnya,tanpa tendensi dan maksud lain. Apapun
alasannya,penanganan sebuah Perguruan Seni Beladiri
tidak bisa dilakukan dengan cara cara mengelola sebuah
Perusahaan – Sebuah Ormas apalagi Sebuah Orpol.)
Berkali kali baik langsung maupun dalam pembicaraan
dan pesan pesan serta tulisan saya katakan bahwa
Struktur dan Mengelola sebuah Perguruan Seni Beladiri
tidak sama dan jauh berbeda dengan cara cara kita
menangani sebuah Bisnis Perusahaan baik kecil apalagi
besar.Lebih lagi mendesain dan mengelola sebuah Ormas
dan terutama lagi membentuk, memimpin dan menjalankan
sebuah Orpol.
Sebuah Perguruan Seni Beladiri (Umpama: Perguruan ini)
yang lahir 38 tahun lalu (1967 – 2005) mempunyai
perbedaan nyata dengan prinsip dasar yang jauh berbeda
dengan ketiga contoh diatas tadi, baik falsafah dan
landasan dasarnya (Bisnis dan Politikpun mempunyai
falsafah dan landasan dasar) maupun
bentuk,sikap,pelaksanaan,cara kerja, kekuasaan dan
wewenang yang dimilikinya.Ketiganya justru mempunyai
landasan pemikiran yang sering justru bertolak
belakang dengan prinsip prinsip dasar serta falsafah
dan landasan dasar sebuah Perguruan Seni Beladiri
yaitu Bushido yang Universal dan Adat Ketimuran yang
halus.
Membicarakan perbedaan besar yang terdapat
diantaranya,tidak berarti kita mendiskreditkan atau
ikut menghakimi apa yang sudah menjadi landasan dasar
serta falsafah berbisnis dan berorganisasi
politik.Semua ini hanyalah sebagai perbandingan nyata.
Jamanl dan manusia sendiri yang akan bersikap
menghadapinya dan kita hanya ingin menyampaikan apa
adanya untuk menjawab pertanyaan;apanya yang berbeda?.
Hal ini penting dan tidak bisa dicampur aduk begitu
saja walau katakan : Dunia sudah demikian maju.Manusia
dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan semuanya
ini baik berpikir maupun bertindak dan berbuat
namun.prinsip prinsip dasar yang satu ini memiliki
ciri tersendiri sepanjang masa selaras dengan
kehidupan manusia..
Perguruan Seni Beladri dikelola secara TOP DOWN
sedangkan kedua yang lain khususnya di era dimana
harkat,martabat,kebebasan dan hak hak manusia makin
dijunjung tinggi adalah BOTTOM UP.
Ini bukan berarti sebuah Perguruan Seni Beladiri lalu
dikelola dengan cara semau dan sekehendak Pimpinan
apalagi dengan cara sewenang wenang.Justru sanksi
moral serta norma norma yang ada didalamnya amat ketat
memagari semua gerak langkah pelakunya.Dirinya
dikontrol oleh dirinya sendiri disamping oleh para
pengikutnya dan masyarakat luas..
Etika dan moral harus dijunjung tinggi.
Demikian juga dengan Ormas khususnya Orpol,kalau
Pimpinan dipilih dan ditentukan oleh Grass Roots
(akar rumput) untuk masa tertentu bukan berarti
Anggota Partai boleh berbuat kasar serta anarkis dalam
memilih Pimpinannya;umpamanya melalui pemaksaan dan
kekerasan.Demokrasi memang perlu tetapi bukan
demokrasi yang justru tidak menghargai hak dan
martabat pihak lain.Demokarasi yang diharapkan adalah
kekuasaan rakyat yang tujuannya untuk mensejahterakan
rakyat itu sendiri serta mempunyai kekuasaan
mengontrol serta mengawasi kerja para Pemimpinnya
melalui perwakilannya..
Maka,sistim Bottom Up adalah cara untuk memperdayakan
rakyat dialam kebebasan (kekuasaan pada rakyat) sampai
timbul kata kata manis : Vox Populi Fox Dei (Suara
Rakyat adalah Suara Tuhan)
Demikian besar kekuasaan ada pada
rakyat.Kenyataannya!.
Mengapa !.
Suatu Perguruan Seni Beladiri dan bukan sekedar sebuah
Klub Kegiatan Beladiri yang mengajarkan Ketrampilan
Beladiri bagi sekelompok orang tertentu untuk tujuan
khusus tetapi Perguruan dalam pengertian yang benar
mempunyai falsafah dan landasan dasar pandangan hidup
yang langgeng (abadi).Falsafah dan Landasan Dasar
Pandangan Hidup ini dimulai sejak lahirnya,yaitu baik
yang tersurat maupun yang tersirat dalam Bushido yang
universal dan Adat Ketimuran yang halus penuh sopan
santun selama masa perjalanan hidupnya. Perguruan
harus konsisten mempertahankan dan mengamalkan dengan
grafik yang stabil dalam menyebarkan,
membina,menanamkan, melaksanakan penggemblengan Phisik
khususnya Mental Spiritual para warganya serta
menjaga agar tetap terjadi kesinambungan dalam
membentuk manusia yang sehat lahir
bathin,berkepribadian,menghargai sesamanya,percaya
diri serta berjiwa perkasa tetapi rendah hati.(Bhirawa
Anoraga).
Didalam falsafah ini samasekali tidak ada unsur unsur
yang merupakan benih benih keangkaramurkaan,kekerasan
dan keserakahan apalagi dasar dasar untuk menghimbun
kekuasaan dan pengaruh untuk melindas sesamanya demi
kepentingan pribadi dan kelompoknya.Justru
sebaliknya.Adat ketimuran yang halus selalu menjunjung
tinggi,menghargai dan menghormati yang lebih senior
sebaliknya yang senior bisa menghargai yang yunior dan
sesamanya mendominasi landasan dasar ini.Seni beladiri
akarnya tumbuh dari Dunia Timur.
Makna dasar dan intisari ini tidak boleh dan tidak
akan berubah walau jaman terus bergulir mengalami
pasang surut perubahan dan kemajuan tehnologi dimana
rasa prikemanusia lebih berkembang secara
univesal.Kemajuan tehnologi yang dinamis dan logika
manusia yang menyebut dirinya sebagai manusia modern
tidak selayaknya merobah apalagi mengacak acak sikap
dasar ini karena memang sudah baku.Sesuatu yang abadi
itu tadi (selama dunia masih berputar) berarti isi dan
kandungannya merupakan barometer cara hidup yang layak
dan baik,berkarakter dan berakhlak.Diamalkan sebagian
saja sudah bermanfaat dan alangkah indahnya sekiranya
landasan dasar dan falsafah ini dilaksanakan secara
maksimal sehingga bermanfaat bagi sesamanya karena
memancarkan cahaya yang bisa menjadi panutan pada
kehidupan sekitar dan lingkungannya.Menjadi cermin
bagi yang lain.
Agama adalah `Jalan Hidup Utama` bagi umat
manusia.Tetapi falsafah karatepun bisa dijadikan
semacam `Jalan Hidup` asal benar benar didalami dan
diamalkan dengan konsisten segala intisari ajarannya..
Lebih baik sebagai manusia sederhana dan rendah hati
melaksanakan jalan hidup yang baik dan terpuji melalui
`Falsafah Karate` daripada beragama tetapi hanya
sebagai kedok dengan melakukan perbuatan yang justru
bertentangan dengan kehendakNYA.Bersembunyi dibalik
kebesaran Tuhan Allah.
Falsafah karate apabila dijalankan dengan sungguh
sungguh pasti juga membuat Tuhan Allah
tersenyum.Paling utama dalam hidup ini adalah menjaga
hubungan vertikal kepada Yang Maha Kuasa dan menjalin
hubungan horizontal dengan sesamanya sesuai
kehandakNYA.
Kalau ada tindakan dan perbuatan yang menyimpang
diluar landasan dan falsafah yang baku ini, maka pasti
hal ini dikarenakan perbuatan orang perorangan
tertentu atau kelompok yang memang secara sengaja lari
dan menyimpang serta meninggalkan jalur Landasan Hidup
yang baik tadi.
Tidak beda dengan Sekte – Sekte dalam Keagamaan yang
sering justru melakukan perbuatan dan tindakan yang
bertentangan dengan norma norma hidup layak dan
biasanya didirikan oleh mereka yang justru
mencemari,mengingkari,menginjak injak dan membunuh
karakter kesucian dan kemurnian ajaran agama dan
kemuliaanNYA..
Agama dipakai sebagai kedok belaka.
Jadi, Perguruan Seni Beladiri yang makna dan tujuannya
adalah Pembinaan Manusia Sehat Lahir Batin dan bukan
hanya satu kegiatan yang berwawasan sempit sekedar
untuk mencapai prestasi olah raga saja atau suatu
kegiatan melalui teori dan praktek beladiri yang
mengutamakan ketrampilan phisik dan tehnik demi tujuan
khusus secara instant, landasan dasar serta falsafah
hidupnya adalah baku dan abadi.Dahulu,sekarang dan
masa jauh kedepan.
Semua kegiatan pembinaan,penggemblengan yang tertuju
kepada pembentukan mental spiritual khususnya
disamping ketrampilan phisik dan pengembangannya walau
harus melalui lorong lorong sempit dan sulit di jaman
yang tidak mudah ini untuk berkelit menghindar dari
situasi dan kondisi yang terus berubah ubah, tetap
harus berlandaskan falsafah dasar tadi.
Karenanya, baik atas dasar logika maupun etika
berorganisasi tidak sejalan apalagi sama dengan
Usaha Bisnis (Perusahaan),Ormas terutama Orpol yang
Bottom Up tadi.
Bisnis (Perusahaan Besar),Ormas khususnya Orpol yang
menang adalah yang mayoritas.
Perguruan Seni Beladiri tidak ada sistim minoritas dan
mayoritas.Yang ada ialah :Taat dan loyal kepada
falsafah dan landasan hidup yang baku tadi.
Karena Perguruan yang benar bukanlah sebuah Organisasi
yang haus kekuasaan,keserakahan dan segala sesuatu
yang bisa berakibat membahayakan lingkungannya
sehingga perlu dikontrol dengan ketat laksana Para
Pimpinan Perusahaan atau Pimpinan Ormas,Orpol yang
didalam landasan dasar dan pandangan hidupnmya
terdapat lobang lobang untuk disalah gunakan demi
kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Falsafah dan pandangan hidup Perguruan Seni Belasdiri
yang menjadi landasan dasar kehidupannya harus
dipegang teguh seorang Pimpinan Perguruan dan Organnya
dengan kokoh dan tidak tergoyahkan serta
konsekuen.Tidak ada hal hal yang membahayakan pihak
lain baik internal maupun kepada masyarakat luas.
Didalam falsafah karate umpamanya,tidak ada factor
yang membenarkan perebutan kedudukan dan kekuasaan
demi ambisi seseorang atau kelompok.Justru merupakan
larangan dan dianggap hal yang nista apabila ini
dilakukan. (Bushido).
Pimpinan harus tulus dan ikhlas dengan tugas tugas
pengabdiannya.Tidak rakus.Tidak haus
kekuasaan.Semuanya demi mempertahankan persatuan dan
kesatuan didalam keluartga besar
Perguruan.Integritas,identitas dan kwalitas khususnya
yang menyangkut diri manusia yang sehat lahir bathin
diusahakan terus menerus tanpa henti.Pikirannya harus
benar benar bersih dari perbuatan perbuatan yang
menyimpang dari moral dan etika manusia berbudaya.dan
berakhlak.Layak jadi panutan dan terkonsentrasi hanya
untuk cita cita Perguruan yang dibimbingnya.
Tidak yakin lagi pada pimpinan dan segala sepak
terjang serta ajarannya,baik warga maupun organ
pendamping utamanya.Tidak terjadi titik temu dan sulit
disatukan,maka dengan ikhlas seharusnya seseorang
meninggalkan jalan yang dahulu diyakini ini.Dengan
damai dan etika tinggi.Inilah jalan `kesatria`.Inilah
jiwa ksatria yang terdapat disalah satu ajaran
`Bushido`. Jiwa besar seorang karateka.Budo Karate.
Jangan karena kurang puas yang mungkin karena dikuasai
kuatnya ego sentriisme dan sifat egoistis dirinya lalu
seseorang mengobok obok sesuatu yang sudah tertata
dengan baik disertai wawasan luas dan pandangan jauh
kedepan.Apalagi didorong nafsu untuk menjatuhkan dan
merebut kedudukan.Ini semua sama sekali tidak etis dan
bertentangan dengan inti dasar falsafah Bushido
khususnya etika dan adat ketimuran dimana Seni Perkasa
ini lahir.Adat ketimuran berusaha selalu menjunjung
tinggi,menghormati dan menghargai yang tua atau
dituakan.
Ada kisah perumpamaan sederhana yang sejak lahirnya
Perguruan saya ceritakan kepada senior dan warga
sebagai berikut :
Beberapa pribadi tanpa paksaan saya ajak bersama sama
mendaki sebuah gunung yang tinggi dan terjal serta
sulit.Semua ini kita lakukan dengan ikhlas dan
kesadaran penuh tanggung jawab untuk bisa mencapai
puncak dan akan menimbulkan rasa kebanggaan bersama.
Kalau ditengah jalan ternyata ada seorang atau
sebagian dari kelompok ini melemah keyakinan dan
semagatnya dan ingin membatalkan niatnya yang penuh
tantangan ini,maka dengan segala hormat dan penuh
pengertian akan saya perkenankan dan bisa mengundurkan
diri secara baik baik.
Tetapi,peserta ini jangan sampai melakukan tindakan
atau perbuatan yang mengganggu, menghalang
halangi,mengajak rekan rekan lain yang masih
bersemangat dengan cara intimidasi dan paksaan apalagi
mencelakai agar gagal melanjutkan pendakian.
Apabila hal ini terjadi maka saya akan bertindak dan
meminta si pelaku untuk keluar dari rombongan
segera,apabila perlu dengan paksaan.
Inilah makna sebagian falsafah Bushido yang harus
dipegang secara konsekuen.
Semua ini sangat berbeda dengan falsafah atau landasan
dasar pemikiran dalam berbisnis (Memimpin Perusahaan –
Pedagang) , Landasan Pemikiran sebuah Ormas,terutama
Orpol. Walau diperhalus bagaimanapun,inti dasarnya
tetap tak berubah dan sama;yaitu : Dalam bisnis
(dagang) `Profit making dan profit taking` .Dalam
Ormas khususnya Orpol : `Kedudukan dan Kekuasaan serta
Pengaruh` merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan yang akan diurakain dengan contoh dibawah
ini.
Pada Bisnis,tidak berlebihan kalau dasar pemikiran ini
menjiwai si pelaku.
Sering terjadi,pemikiran dasar ini menjadikan si
pelaku berbuat apa saja agar bisnisnya tetap berjalan
dan memberikan keuntungan sebesar besarnya dan sering
tanpa mengindahkan norma norma yang ada dan juga
kurang peka / tidak menghiraukan pihak lain yang
tercekik dan mati mengenaskan akibat tindakan dan
perbuatannya. Tidak semuanya,tetapi bagian terbesar
melakukan hal yang demikian itu.Sudah merupakan spirit
yang dimilki bagi mereka yang berjiwa dagang.Makin
besar si Pengusaha.hiiii ! makin panjang taring taring
penghisap darah.Saya tidak bicara sembarangan.Faktanya
memang demikian.Sekali lagi,sebagian besar.Ini adalah
landasan perjuangannya kalau tidak ingin terlindas
yang lain.Karena persaingan yang berat dan ketat.
Betapapun segala rambu rambu dan peraturan
dibuat,tetap lobang lobang bisa dilalui mereka yang
lihay karena keakhlian ini memang harus dimiliki untuk
bisa mencapai cita citanya.Sering seorang boss harus
bermuka manis dan lembut tetapi jauh dari sikap
lahirnya itu,ada kekuatan didalam hati yang tidak
peduli akan apa yang akan terjadi yang menimpa
sesamanya.Kalau bisa akan melindas dan mematikan
pesaingnya dan bahkan terhadap rakyat kecilpun sering
kurang peduli Pedangan harus berjiwa dagang atau akan
terpuruk dalam persaingan yang mematikan.
Semua ini kita kenal sebagai : Persaingan tidak
sehat.Yang besar dan perkasa melindas dengan berbagai
cara yang lemah dan tidak berdaya.
Terjadilah dalam persaingan bebas ini usaha saling
membantai by all cost.
Contoh di negeri kita sendiri pada puluhan tahun lalu
dimana Belanda masih bercokol dan berkuasa di Tanah
Air.Ini sekedar untuk menunjukkan jiwa pengusaha.Bukan
untuk ikut menilai secara pribadi karena semua ini
sudah menjadi landasan dasar seorang
Pengusaha.Sekarangpun,dimanapun di dunmia ini cara
cara demikian ini tetap berlangsung bahkan mungkin
lebih hebat walau dengan sistim dan metode yang lebih
intelek,licin dan terselubung.
Beberapa puluh tahun lalu Firma `` X `` merajai
perdagangan khususnya hasil bumi (polowijo) di Tanah
Air waktu itu walau usaha lainpun dijalankan meluas ke
berbagai Negara Tetangga khususnya.
Dengan dana yang kuat dan hubungan yang luas (
Perusahaan ini bertaraf Internasional),maka bisnis ini
mampu mencapai keuntungan besar walau sebenarnya
dilakukan melalui perbuatan dan cara cara yang kurang
manusiawi.Di bidang bisnis apa artinya `manusiawi`
.Yaitu : Manusia yang hanya memikirkan duniawi!.Yang
penting,keuntungan sebesar besarnya sesuai dasar dan
landasan pemikiran dalam berbisnis.Inilah
dagang.Landasan permikiran memang mencari keuntungan
sebesar besarnya tadi Tujuan menghalalkan segala cara
!.Andaikan tidak terjadi perubahan jaman dan
pengetatan peraturan,maka metode dibawah ini tetap
akan berjalan dengan bebas mungkin makin menjadi
jadi..
(contoh ini saya sampaikan karena kakek dan ayah saya
masih merasakan sebagai pedagang kecil saat itu yang
terkena dampaknya).
Mengapa demikian.
Saat Panen Raya jagung umpamanya.Bahan polowijo yang
termasuk vital bagi rakyat kebanyakan.Melalui dananya
yang kuat, perusahaan ini membeli semua produk para
petani yang ada dan akhirnya sebagian besar hasil
panen jagung dikuasainya diseluruh pelosok Tanah Air
melalui pos dan agennya.Pedagang kecil tidak mungkin
bisa melawan hegemoni Perusahaan berkapital besar ini
dalam persaingan membeli hasil produksi para
petani.Petani membutuhkan dana segar dengan segera
untuk kehidupannya sehari hari.
Stok yang besar ini ditimbun dan apabila banyak
pengusaha kecil yang masih memilki stok jagung dan
bertahan,maka dikucurkannya sebagian hasil
timbunannya.Harga di pasaran turun karena jagung
melimpah.Pedagang kecil tidak tahan mengalami hal ini
karena terus merugi.
Pada saat itu sisa yang berada bebas di pasaran ini
diborongnya lagi hingga jagung kosong. Jagung
kosong,permintaan dan kebutuhan banyak pasti harga
bergerak naik (Hukum Ekonomi).
Sementara jagung yang ditimbun ditahan dan dibiarkan
tidak beredar diluaran.Karena memang bermodal besar
maka perputaran uang tetap bisa berjalan dan bertahan.
Segera harga jagung dipasaran makin melambung dengan
cepat.
Apabila harga dipasaran sudah sangat
menguntungkan,maka stok jagung pelahan lahan dilepas
dengan cerdik untuk menjaga harga pada tingkat yang
dikehendaki.
Keuntungan besar diperolehnya.Yang besar makin
besar,yang kecil hanya bisa menengadah ke langit
menunggu tetesan embun pagi.
Ini hanya contoh kecil yang tetap terjadi hingga kini
walau dengan cara cara yang lebih halus karena
dipagari berbagai koridor dan peraturan dengan sanksi
sanksinya yang berat demi untuk mencegah hal hal yang
kurang manusiawi ini terjadi.Nyatanya, dimanapun di
dunia ini hal seperti kejadian yang dilakukan Firma ``
X `` tetap berlangsung karena memang sudah menjadi
jalan hidup dan semangat utama dalam berbisnis.Makin
raksasa makin rakus dan makin lihay dalam segala gerak
langkahnya.U.U. dengan segala peraturannya
dibuat,dilakukan pengetatan dan pengawasan, tetapi
tetap sebagian besar bisa menerobosnya melalui pat
gulipat.Sekali lagi,bukan bisnisnya yang menjadi
focus,tetapi cara cara akibat landasan dasar hidupnya.
Inilah `BISNIS`.Roda perusahaan.
Seorang Pengusaha Besar harus orang yang cakap,lihay
dan cekatan melihat situasi.Bukan ini saja.Perlu juga
memiliki sebuah `Hati Beku`. Hampir nol rasa welas
asihnya, percaya?. Malahan sering tidak perduli akan
alam sekitarnya.Harus bisa diterima kenyataan ini.
Dalam dunia dagang hal seperti ini dianggap wajar
wajar saja,seperti dalam tinju memukul K.O. lawan.
SURVIVAL OF THE FITTEST. ( YANG KUAT YANG TETAP
BERTAHAN )
Kalau ada yang lurus dan wajar wajar , jumlahnya
tentu tidak sebanding dengan mereka yang berpedoman
dan berkata : `Persetan itu semua,yang penting
keuntungan besar.Norma dan etika itu masalah
kedua`.Sedangkan Perguruan mengutamakan norma norma
dan etika!.
Mereka bisa sangat perkasa karena didukung
Kedudukan,Kekuasaan,Pengaruh dan modal besar
dibaliknya.
Contoh ada didepan mata kita setiap hari.
Dalam bidang Ormas & Orpol yang hampir memiliki
persamaan antar keduanya.
Tujuan membentuk Orpol yang utama adalah : Mencari
Kedudukan,Kekuasaan dan Pengaruh (katanya : Demi
memperjuangkan nasib bangsanya ataukah diri dan
kelompoknya sendiri!). Kita sadari dan maklumi,tanpa
kedudukan,kekuasaan,pengaruh serta kekuatan dana
dibalik perjuangannya, maka sebuah Orpol akan ompong
dan boleh dikata tidak bisa berbuat apa apa dan tidak
mudah untuk berkembang.Uang termasuk unsur yang
penting untuk segala operasinya. Contoh nyata saat
pergolakan perebutan kekuasaan dari Orla ke Orba
betapa hebatnya segala intrik dan keberingasan muncul
sehingga segala rasa hormat dan kesopanan serta
kemanusiaan yang harusnya dijunjung tinggi,justru
dinjak injak hanya demi Kedudukan,Kekuasaan dan
Pengaruh.Dengan cara dan jalan apapun.Tujuan
menghalalkan cara!. Bagaimana Bapak Bangsa dan Pendiri
Negara R.I. ini diperlakukan secara biadap betapapun
sebagai manusia tidak akan lepas dasri kekurangan dan
kesalahan.Sungguh menyakitkan.
Sedangkan Perguruan untuk mencapai tujuannya dibatasi
oleh norma dan kaidah serta falsafah baku;yaitu
:Bushido yang Universal yang didalamnya terdapai hal
hal yang erat kaitannya dengan rasa hormat dan sopan
santun.Sekali lagi,bukan nilai nilai kebesaran bentuk
dan tujuannya,tetapi perbedaan landasan dasar dan
falsafahnya yang sangat bertolak belakang.
Kalau yang dinilai besarannya,maka baik Bisnis
Besar,Orpol khususnya tidak bisa dibandingkan dengan
sebuah Perguruan Seni Beladiri yang lemah dan hanya
setitik debu dalam kancah kenegaraan.Yang
diperbandingkan adalah : Landasan dan Falsafah
hidupnya dimana sering terjadi sebuah Perguruan Seni
Beladiri mengadopsi cara cara kedua institusi itu
beroperasi.Ini yang kurang tepat!.
Dalam Orpol sering terlihat nyata : Satu perbuatan
untuk rakyat dan pendukungnya…..ah…itu nanti saja.
Kata seorang bekas Pejabat Tinggi; sekali duduk di
singgasana kekuasaan…terpampanglah gelimang kekayaan
yang bisa diraup dengan mudah.Keinginan yang melambung
tinggi untuk mencicipinya sering tak tertahan sehingga
akhirnya terperosok dalam lembah korupsi
(Koruptor).Kata seorang penulis terkenal : Kekuasaan
mengarah ke korupsi!.
Ini semua,akibat perkasanya
Kedudukan,Kekuasaan,Pengaruh dan Dukungan Dana yang
besar.Hampir semua bisa dibeli dan dikuasai..
Semangat dan Falsafah baik Pedagang ,Partai Politik
yang utama ini terjadi dimana mana di dunia
ini.Perbedan hanya pada cara dan koridor yang
menghambatnya.Tapi dasarnya sama.
Kalau ada Politisi dan Pejabat yang berpengaruh dan
berkuasa tidak melakukan korupsi dalam bidang dan
lingkungan kekuasaannya,maka merupakan
kekecualian,suatu keterkejutan dan keanehan.Mungkin
lupa untuk melakukan atau memang dasar imannya yang
kuat.
Layak kita syukuri pribadi yang demikian ini.
Perilaku Pedagang, Politik dan Politikus terus berubah
dan berkembang sesuai dengan keadaan jaman.Berusaha
selalu mendahului kelihaian Aparat Negara dan Rakyat
yang mengawasinya.
Siapa berpengaruh dan memiliki kekuasaan,dia bisa
mengatur segalanya.Bahkan kehidupan kita sehari hari.
Kedua landasan dasar serta terkumpulnya power yang
selalu menjadi tujuan utama yang ada pada cara
Berbisnis dan Berorganisasi Politik ini merupakan
perbedaan yang sangat mencolok dan amat fundamental
dengan gerak langkah sebuah Perguruan Seni Beladiri
dalam pengorganisasiannya,bukan dalam besarannya,saya
ulangi,tapi dalam prinsip prinsip dan falsafah
hidupnya.
Terjadilah kekuasaan yang dibentuk dari bawah
keatas.Dalam Perusahaan Besar ada RUPPS.Dalam alam
Demokrasi (Kekuasaasn Rakyat.) ada Konggres atau apa
namanya untuk memilih Pimpinan. Mempergunakan sistim
:BOTTOM UP.Dari bawah meruncing keatas.(nardi tn).
Ini semua,terutama bertujuan agar kekuasaan dan
wewenang ada batasnya serta menyesuaikan dengan
keadaan dunia yang terus berkembang.
Pada Perguruan Seni Beladiri yang perjuangannya
stabil,yaitu menjalankan landasan hidup dan
falsafahnya yang langgeng dan konsisten perlukah ada
sistim Bottom Up atau malahan akan menimbulkan ` Like
and dislike` seperti pada Orpol.
Falsafah dan landasan jalan hidup Perguruan Seni
Beladiri tetap sama;dahulu,kini dan masa datang selalu
bertujuan baik dengan batasan yang jelas dan tidak
plin plan..
Semua landasan dasar dan falsaf hidup ini perlu
dipertahankan semurni murninya.
Seorang Pimpinan Perguruan bukan seorang `Boss`.Tidak
mempunyai kekuasaan (Power).
Seorang Pimpinan Perguruan adalah seorang yang hanya
memimpin berdasarkan kekuatan moral dan dukungan yang
tulus ikhlas serta loyal dari para pengikutnya.Layak
jadi panutan.
Tidak mermiliki kekuatan dan kekuasaan untuk
menjatuhkan pihak lain….dan lagi untuk apa semua itu
karena tujuannya bukan kekuatan materi tetapi membina
manusia sehat lahir bathin dan berguna bagi diri yang
dibina,berguna bagi sesama,bukan untuk keuntungan
pribadinya.
Akibat salah jalan,sebuah Perguruan Seni Beladiri
(Karate) dikelola dengan cara mengelola sebuah
Perusahaan atau sebuah Ormas dan lebih dahsyat lagi
merncontoh gaya kepengurusan Orpol.Intrik dan isyu
serta cara cara intimidasi mendominasi sendi sendinya.
Dalam berpolitik ada pemeo : Pagi kedele sore
tempe.Pagi teman sore lawan.
Dalam `Bushido` diutamakan sikap dan sifat
Ksatria.Bisa diuraikan sendiri pengertian kata
`Ksatria` oleh masing masing.
Perlu kita sadari juga.Sebuah Perguruan Karate Anggota
Federasi Olah Raga Karate Do Indonesia selayaknya
memberikan dukungan pada Program Program Induk
Organisasi ini karena adanya Federasi juga karena
eksistensi Perguruan didalamnya,tetapi sebuah
Perguruan Karate yang bertanggung jawab jangan hanya
sepenuhnya (full power) mendukung Program FORKI yang
mempunyai perbedaan fundamental dengan landasan dasar
dan tujuan Perguruan.
Forki sudah selayaknya petimbangan utamanya adalah
`demi prestasi Olah Raga Karate untuk kepentingan
Nasional` khususnya di forum prestasi Regional dan
Internasional.Sedangkan Perguruan Karate,sebagai alat
pembinaan seharusnya lebih menentingkan pembentukan
manusia seutuhnya.Sehat lahir bathin.
Berikan dan dedikasikan pada Negara melalui FORKI yang
menjadi haknya yaitu karateka karateka yang
berprestasi Olah Raga yang dimilki Perguruan tetapi
tujuan yang utma dan penting sebuah Perguruan adalah
membina bagian terbesar warganya untuk maksud yang
lebih tinggi dan bukan sekedar prestasi Olah Raga;
yaitu: Membentuk manusia seutuhnya yang berakhlak dan
berkepribadian.
Sumbangkan sebagian (kecil) Karateka yang berprestasi
Olah Raga Karate kepada Federasi untuk kebanggaan
Bangsa dan Negara dalam Bidang Olah Raga
(Pertandingan) di forum Internasional.Bukan seluruh
upaya hanya dikonsentrasikan demi Prestasi Olah Raga
Karate belaka sehingga pembinaan mental spiritual
diterlantarkan.
Perguruan Seni Beladiri tetap harus konsisten pada
tugas dan pandangan hidup dalam membina para warganya.
Kapanpun.
(nardi tn)
Cuplikan Lainnya.....
|
|
Suasana jiyu kumite pada Ujian DAN yang berlangsung tanggal 6-7 Mei 2005 kemarin di DOJO PUSAT, Batu - Malang.
KONGRES FORKI XII 2005

Delegasi dari Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia (KYOKUSHINKAI) pada Kongres FORKI XII 2005,
di Jakarta 25-26 Juni 2005.Diwakilkan seperti yang tampak dalam gambar :
Andi Susila mewakili Pimpinan Pusat Perguruan,
Ir. F. Sugiarto Wiyono mewakili Bidang Pembinaan,
J.B. Gregorius, SH. mewakili Bidang Organisasi
Terpilih kembali sebagai ketua umum FORKI periode 2005-2009 adalah Bp. Luhut B. Pandjaitan, MPA.
Saat Ujian DAN yang berlangsung di DOJO PUSAT,
Jl. Panglima Sudirman No.10 BATU, tahun 1993.
Para peserta ujian DAN II ke DAN III dan DAN III ke DAN IV pada saat perayaan HUT
Perguruan tanggal 22-23 Mei 2005 setelah menempuh Ujian.
Untuk kritik dan saran: HUBUNGI REDAKSI |
|