MENU
Silahkan klik pada tombol menu yang diinginkan:
HYMNE PERGURUAN
GO NO SEN GO NO SEN
S'mboyan kita karateka,
Tegak kuat dan perwira
Itu sifat karateka
Karate seni beladiri, bela keadilan
Karate seni beladiri, bela kebenaran
GO NO SEN GO NO SEN
S'mboyan kita karateka,
Teguh kuat dan ksatria
Itu sifat karateka
Itu sifat karateka
Latihan bersama di luar dojo.
Warga berbaris di kanan kiri Jl. Diponegoro - Jl. Gajah Mada hingga Jl. Panglima Sudirman di depan Pusat Perguruan.
Dua karateka senior mengawal mobil Bp. Widjojo Soejono menuju Pusat Perguruan.
Pimpinan delegasi Singapore pada Kejuaraan Internasional I, 1973. Berdiri di tengah adalah Mr. Peter Chong.
Peristiwa Ngliyep, Malang Selatan 1976. Latihan ringan sebagai pemanasan sebelum tatap muka dengan Shihan Nardi sekitar pk.11.00 air laut terlihat dangkal.
Sekitar pk 11.45, warga mempergunakan sabuk yang diikat satu sama lain dan mulai berderet menuju tempat korban.
Nardi duduk di ruang kamar tidur, di sela peti-peti ketiga jenazah yang bisa diketemukan pada peristiwa 5 September 1976 di Pantai Ngliyep, Malang Selatan.
Saat peti jenazah diangkat di depan dojo pusat menuju ke pemaakaman. Masyrakat berjubel.
Master Oyama meninggal pada tanggal 25 Maret 1994 dalam usia 71 tahun. Kepemimpinannya di Tokyo Honbu dilanjutkan oleh murid pilihannya Shokei Matsui yang pada saat Shihan Nardi belajar di Special Black Belt Course For Instructors beliau baru berusia 7 tahun. Beliau mulai berlatih pada umur 13 th dan kini menyandang DAN VIII.
Nardi T. Nirwanto SA. Terharu pada penyerahan kembali Samurai yang dimenangkan oleh simpatisan Bapak Jimmy dari Jakarta.
Segala bentuk tulisan dan pertanyaan harap dikirimkan melalui Email : nardi_tn@yahoo.com
|
LANJUTAN..... SEJARAH PEMBINAAN MENTAL KARATE KYOKUSHINKAI KARATE-DO INDONESIA 1967 - 2002
Karate sendiri secara nyata masuk Indonesia tahun 1964. Salah seorang pionir adalah Bapak Drs. Baud
A.D.Adikusumo dari aliran Shotokan dan diikuti beberapa tokoh karate yang lain seperti Bapak Sabeth Muksin, Anton
Lesiangi dan lain-lain. Mereka kembali ke Indonesia setelah menjadi mahasiswa di berbagai disiplin ilmu di Perguruan
Tinggi di Jepang dan berlatih karate disana dari berbagai aliran karate seperti Shotokan, Gojukai dan Wadokai
serta yang lain.Tetapi terbanyak adalah dari aliran Shotokan karena Shotokan ini memang mendominir
perkaratean Jepang. Karena karate sebagai olah raga termasuk baru, maka bersama-sama mereka mendirikan
PORKI, yaitu Persatuan Olah Raga Karate Indonesia, wadah untuk perkaratean di Indonesia. Dengan
terbentuknya wadah ini, karate bisa diakui KONI, yaitu: KOMITE OLAH RAGA NASIONAL INDONESIA.
Malang, si bayi bernama karate yang berindukkan PORKI ini terus ribut sejak kelahirannya. Kegaduhan
terjadi tak henti-hentinya, saling tidak mau memberi dan menerima (Give and Take). Muncul sifat dan sikap yang
menonjolkan diri paling benar dan saling mengklaim. Yang baru datang dengan tingkatan lebih tinggi menimbulkan
permasalahan dan berbagai penyebab lain tentunya. Bisa dibayangkan, dari satu aliran saja dan aliran diluar
Shotokan yang tergabung dalam WUKO, yaitu:World Union Of Karate Do Organizations bisa demikian runyam dan tidak bisa damai, apalagi terhadap Kyokushin Karate yang didirikan Master Oyama dengan sistim Full Body Contact (Secara resmi juga tahun 1964), suatu aliran yang terbentuk paling muda diantara aliran yang lain dan di Jepang sendiri memang disisihkan dan dikecilkan artinya, seperti peristiwa di Singapore, yaitu Mr.Peter Chong kurang rela kalau ada pribadi dari Indonesia, negara yang besar dan luas ini, muncul karateka Kyokushin yang mungkin bisa lebih mendominir Asia Tenggara. Demikian juga, mau tidak mau Perguruan ini terkena percikan-percikan dan imbas yang tidak membahagiakan. Mereka rata-rata di Jepang
sudah mendalam memperoleh pengaruh untuk tidak simpatik kepada aliran baru ini, maka di Indonesia Perguruan inipun menjadi sasaran. Ini kenyataan dan bisa dibuktikan berita Media Cetak saat itu. Cemooh, ejekan dan pendiskreditan terhadap Perguruan yang masih muda ini terjadi, bahkan di mass media cetakpun muncul tulisan-tulisan yang sangat meremehkan dan sangat menyinggung perasaan, merendahkan secara terang-terangan keberadaan Master Oyama dan aliran Full Body Contactnya. Nardi selalu memberi sanggahan berdasarkan logika dan kenyataan. Logikanya, salah satu contoh, mungkinkah Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato waktu itu menjadi Presiden Kyokushinkai-kan sekiranya aliran baru ini KARATE GADUNGAN?!, dan walaupun hal ini terasa pahit, tetapi sangat menguntungkan pertumbuhan Perguruan. Dari perang berita ini, masyarakat umum
makin mengenal Perguruan ini dan memang sudah menjadi hukum alam, siapa yang tertindas pada umumnya akan
selalu lebih banyak memperoleh rasa simpatik. Tulisan Nardi di media cetak seperti KOMPAS, SINAR HARAPAN (waktu itu) sekarang SUARA PEMBARUAN dan Koran MERDEKA banyak memuat berita Perguruan ini sehingga Oyama Karate makin dikenal secaca luas. Dokumen pemberitaan media cetak itu masih tersimpan di Pusat setelah 30 tahun lebih keberadaannya. Kalau di Jawa Timur perguruan berusaha dengan sekuat tenaga menampilkan wajah karate yang manis, damai dan bersahabat agar mendapat simpatik masyarakat, di Ibu Kota karate tak henti-hentinya ribut dan saling gontok-gontokan, baik di pertemuan-pertemuan, di Kongres dan bahkan di Kejuaraan Umum yang ditonton masyarakat luas. Sungguh sayang. Semua ini sangat merugikan nama karate pada umumnya. Penilaian dan pandangan masyarakat luas bisa sangat negatif terhadap karate apalagi karate hal yang baru dan masih asing saat itu. Seorang tokoh masyarakat kelahiran Jawa Timur juga waktu itu, Bapak WIDJOJO SOEJONO, Pangdam VIII Brawijaya sangat prihatin melihat ini semua. Apalagi sebuah Perguruan yang tumbuh di Jawa Timur dari kota
kecamatan Batu juga terkena imbasnya. Bapak Widjojo Soejono menyadari hal ini harus dihentikan dan perkaratean
di Indonesia selayaknya hidup berdampingan secara rukun dan damai. Saling menghargai dan menghormati satu sama
lain. Ide ini terasa klop dengan pemikiran Bapak Soerono,seniornya dari KONI Pusat.
Pada HUT Perguruan tahun ke 5, 1972 di Balai Sahabat Surabaya, Nardi saat itu dalam sambutannya menyampaikan
unek-unek dan keluh kesahnya di hadapan para Pejabat Jawa Timur termasuk Bapak Widjojo Soejono. Salah satu
kata-kata Nardi yang paling keras adalah: ‘Kalau sekiranya Perguruan ini tumbuh dan ternyata memang melakukan
hal yang terlarang, merusak para remajanya serta merugikan masyarakat serta melanggar hukum di Indonesia, tidak perlu
warga perguruan diperlakukan secara tidak manusiawi. Ambil saja Pimpinannya dan gantung di tengah alun alun’.
Mengapa Nardi menyampaikan uneg-uneg ini?. Karena di beberapa cabang Perguruan ada kejadian-kejadian yang
tidak layak, umpamanya; pakaian anggota saat latihan dikencingi oleh warga salah satu Perguruan lain dan nyatanyata
direstui dan bahkan dianjurkan pelatihnya karena sudah diindoktrinasi pimpinannya bahwa Kyokushin
karate ini karate gadungan dan berbagai hal lain yang tidak layak. Mungkin sepotong kalimat ini menyentuh hati nurani
Bapak Widjojo Soeono saat itu, khususnya mengenai perkaratean di Indonesia, dan selesai acara HUT saat Bapak
Widjojo Soejono pamit, beliau memberi salam kepada Nardi dengan matanya yang tajam, memancarkan keprihatinannya
yang dalam dan meyakinkan Nardi sambil berkata: ‘Nanti perkaratean kita benahi’. Suatu kalimat yang menyejukkan
dan bisa dipercaya karena keluar dari hati seorang tokoh yang patut dihormati dan disegani. Halus dan berkepribadian, pemikir dan berpikiran jauh dan dalam walau berwajah keras, tetapi hatinya lembut. Bapak Widjojo Soejono adalah salah satu Jendral pemegang Bintang Maha Putera. Akibat penyampaian uneg-uneg Nardi yang keras di hadapan Pejabat Tinggi di Jawa Timur itu, ada sebuah Perusahaan Besar yang semula ingin menjadi sponsor pada event-event besar menyatakan menarik diri dan seorang penghubung yang kehilangan rejeki sebagai akibatnya, marah dan kecewa. Persetan dengan itu semua, kata Nardi. Dalam
memimpin dan mengarahkan Perguruan, Nardi tidak mau dibawah tekanan siapapun. Lebih baik bubar daripada harus
merangkak-rangkak mengorbankan harga diri. Ini prinsip hidupnya!.
Benar, pada Kongres IV PORKI tahun 1972 di Jakarta dimana Nardi untuk pertamakali diundang oleh Organisasi
Karate Nasional in dan dihadiri 25 Perguruan Karate yang waktu itu eksis di Indonesiai, terbentuklah FORKI, yaitu
Federasi Olah Raga Karate Do Indonesia yang diharapkan bisa membawa nafas dan arah perkaratean yang lebih baik.
Bapak Widjojo Soejono terpilih secara mutlak sebagai Ketua Umum PB FORKI .
Didalam Kongres PORKI IV 1972 yang berakhir dengan terbentuknya wadah FORKI tersebut, disampaikan gagasan
dan pandangan Nardi sebagai sumbangsih betapapun kecilnya demi kebersamaan perkaratean di Indonesia.
Kejadian di Japan Karate Association (JKA) di Jepang jangan sampai merembet di Indonesia. Point- point penting adalah
sebagai berikut:
- Diakuinya identitas Aliran masing masing, berarti tetap adanya persaingan persaingan sehat, sportif
dan terarah serta demi kemajuan perkaratean di Indonesia yang mementingkan kenasionalan tapi bersifat internasional.
- Duduk sama rendah berdiri sama tinggi, suatu corak keagungan dalam berorganisasi dimana masing-masing merasa mempunyai hak dan kewajiban yang sama demi cita-cita yang satu, menjunjung tinggi nama perkaratean di Indonesia
- Saling menghargai dan menghormati diantara Pimpinan dan warganya masing masing, suatu sifat ketimuran yang lebih mengutamakan perasaan halus yang sesuai dengan jiwa karateka, tidak menonjolkan keakuannya.
- Mempunyai hak penuh untuk mengurus rumah tangganya masing-masing, berarti adanya kebebasan untuk memikirkan kemajuan ke dalam dengan hasil ke luar selama tidak dengan caracara yang merugikan kepentingan umum. Suatu rumah tangga tidak mungkin aman dan tenteram serta teratur apabila selalu mengurusi dan ikut campur tangan rumah tangga orang lain.
- Mencari suatu nama yang pantas bagi wadah perkaratean di Indonesia yang bisa diterima semua pihak dengan rela dan penuh pengertian dimana didalamnya bisa berteduh semua Organisasi Karate yang diakui dengan aman dan tenteram, lepas dari perasaan takut untuk diperlakukan secara tidak adil. Merupakan suatu rumah bagi perkaratean di Indonesia, dimana kita mempunyai kebebasan disamping kewajiban kewajiban dan tanggung jawab untuk bersama sama mempertahankan keagungan rumah tersebut demi kepentingan bersama dibawah lindungan orang tua yang pasti mementingkan dan selalu memikirkan kesejahteraan putera puterinya dengan adil penuh tanggung jawab.
Pandangan dan pemikiran ini mendapat sambutan dan dukungan baik dari sebagian besar tokoh waktu itu yang hadir dan selalu dipegang teguh oleh Perguruan hingga saat ini karena cukup menjamin adanya ketenangan selama prinsip-prinsip yang demikian itu dipertahankan dan dijalankan secara konsekuen.
AD – ART FORKI pun menjamin hal yang demikian itu hingga kini. Yang penting pelaksanaannya, benarkah sudah dijalankan secara konsekuen hal yang sudah dimufakati bersama ini. Semoga !
Perguruan makin berkembang, jumlah pelatihpun makin besar yang dahulu disebut: Co.Assistant, Assistant Instructor dan Instructor dan sejak 1999 menjadi: Pembina Pemula (Junior), Pembina Madya dan Pembina Senior. Kata PEMBINA lebih mempunyai arti yang dalam. Tidak mungkin seorang PEMBINA menjerumuskan mereka yang dibina, membina bukan sekedar memerintah (To instruct). Karate Coach. Bak seorang kusir yang pasti mengarahkan keretanya ke jalan yang baik sampai tujuan.
Perguruan makin melaju, bukan dipandang dari jumlah cabangnya saja dan meluasnya perkembangan, tetapi terutama sistim full body contact ini makin populer di tengahtengah masyarakat dan penggemarnya. Ini suatu tanda bahwa sistim ini diterima secara luas dan mempunyai penggemar tersendiri. Dukungan masyarakat ini sangat membanggakan. Dahulu orang demikian asing mendengar kata Kyokusinkai Karate, logo Kanku tidak dikenalnya dan bahkan kota Batupun sangat asing bagi para wartawan, khususnya di Ibu Kota. Melalui pendekatan dan hubungan terus menerus yang intent, akhirnya nama Kyokushinkai Karate, Mas Oyama, sistim Full Body Contact dan bahkan kota Batupun makin dikenal dan bukan hal yang asing lagi. Dahulu, kalau diadakan jumpa pers di Jakarta dan mengetahui Nardi dari Batu, selalu timbul pertanyaan dimana Batu itu dan perlu dijelaskan dahulu baru agak dipahami, dekat kota Malang di Jawa Timur. Karena itu, hingga kini Nardi bisa karena seringnya
mengadakan jumpa press sekitar tahun 1971 – 1976 sangat memahami wartawan tulen berbobot dan wartawan amplop
hingga kini. Yang tulen rasional obyektif dibanding yang hanya sensasi membuat heboh.
Setelah terbentuknya FORKI, di Surabaya diselenggarakan apel besar karateka Jawa Timur di Gelora
10 November Surabaya. Cabang-cabang di Jawa Timur dalam jumlah besar dan tanpa persiapan khusus
mengirimkan anggotanya, hanya karena terbiasa tertib dan disiplin, maka acara apel besar dengan inspektur upacara
ketua umum PB FORKI, Bapak Widjojo Soejono, semuanya dilakukan dengan rapi, tertib disiplin dan rasa penuh
tanggung jawab demi kehormatan nama Perguruan yang berpusat di Batu itu, satu-satunya Perguruan Karate yang
berpusat di sebuah Kecamatan. Semua keharmonisan dalam gerak dan pergeseran baris berbaris terlihat sangat rapi
hanya berdasarkan komando para seniornya sehingga mengagumkan dan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi
Nardi saat itu. Salah seorang tokoh karate dari Jakarta, sambil melihat kerapian warga Perguruan ini dari atas
podium berkata: ‘ Kok bisa begitu Pak Nardi!’.
Pada tahun 1973 Perguruan mencoba mengundang karateka dari Singapore dibawah pimpinan Mr. Peter Chong, karateka dari Malaysia dibawah pimpinan Mr. Joe Chin Tut Ching yang dikenal Nardi saat berada di Singapore, serta seorang karateka dari Australia yang kebetulan berlatih di Singapore. Melalui publikasi yang lumayan dan mengena, Kejuaraan Internasional I ini sukses besar. Penonton berjubel hingga beberapa meter dari Gedung Pancasila karena tidak bisa dapat tempat, kehabisan tiket. Untuk masuk gedung saja sulitnya bukan main dan di dalam penuh sesak, tetapi tetap tertib. Bapak Widjojo Soejono dan Pejabat teras serta perwakilan PB FORKI hadir pada event itu. Saat itu Gedung Pancasila merupakan Gedung Olah Raga yang paling representative di Jawa Timur.
Nardi yang tidak mempersiapkan para karateka Perguruan secara khusus meyakini bahwa mereka selalu siap phisik –
mental, bahkan tidak ditentukan siapa yang nanti akan dipilih sebagai wakil Indonesia kecuali memberi dorongan semangat
agar bersikap mental yang baik serta permohonan agar bersedia bertanding dengan semaksimal mungkin demi nama
Perguruan dan nama baik Indonesia. Ini yang terpenting. Kalah tidak menjadikan kekecewaan dan menangpun tidak
menjadikan kepongahan. Akhirnya, dalam pertandingan yang sekaligus bersamaan dengan Home Tournament II,
Indonesia menang mutlak dan beberapa karateka Singapore dan Malaysia tidak bisa bangun saat tiba di Hotel selesai
pertandingan sehingga keesokan hari saat diajak berekreasi ke tretes dan Batu, beberapa tidak bisa ikut akibat keadaan
phisik yang payah berhadapan dengan karateka Indonesia sehari sebelumnya yang bertanding dengan semangat
tinggi. Benar, karateka tamu mendapat pengalaman pahit dan mereka tidak menduga akan berakibat demikian
fatal kehadirannya di Indonesia, terutama Mr. Peter Chong yang memang merasa superior sejak kedatangannya
karena menurut perhitungannya Nardi pernah berlatih di Singapore.
Kemenangan mutlak ini disaksikan Bapak Widjojo Soejono dan Perwakilan PB FORKI serta juga Pejabat Teras Jawa
Timur serta beribu mata penonton. Semuanya menang dengan meyakinkan tanpa rekayasa sedikitpun. Kompetisi
penuh. Kisah dibalik ini semua yang didengar Nardi setelah pertandingan selesai adalah sebagai berikut. Di Airport
Juanda saat dijemput Panitia, Mr. Peter Chong dengan lantang bertanya: ‘ Where is Nardi ?‘ sambil berpesan agar
Nardi jangan merasa takut, biasa saja pada saat pertandingan nanti!‘. Pesan penuh kecongkakan ini hanya
dijawab :‘ Oss‘ oleh seorang karateka L.S. yang berada diantara rombongan penjemput walau merasa geli akan
kesombongan Mr.Peter Chong ini. Kebetulan saat Nardi memilih karateka yang diberi kepercayaan untuk bertanding
mewakili Perguruan dan nama Indonesia, Karateka L.S terpilih sehingga dia bisa melampiaskan kedongkolannya
atas kesombongan Mr. Peter Chong yang meremehkan karateka Indonesia untuk membuktikan karateka tuan
rumah bukan karateka tempe !
Tahun 1975 saat Perguruan berusia 8 tahun diselenggarakan Jambore Nasional I di Pusat Batu dan
merupakan event besar karena hampir 1500 warga dari seluruh cabang yang ada hadir saat itu. Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Bapak Widjojo Soejono yang khusus datang untuk membuka Jambore ini. Saat beliau memasuki kota Batu, para karateka berbaris di kedua sisi jalan sepanjang hampir 1 km dengan rapi dari arah timur sampai didepan Pusat Perguruan. Penghormatan
ini layak diberikan karena jasa dan kepedulian beliau kepada Perkaratean Nasional dan Perguruan, sebagai pengayom dan juga Ketua Umum PB FORKI. Hadir juga waktu itu, Bapak R. Banoe Roesman Kartasasmita, Presiden Perguruan, yang ikut menyambut beliau bersama Nardi dan senior lain serta beberapa Pejabat dari Kabupaten Malang dan Batu didepan Dojo Pusat. Mobil
Bapak Widjojo Soejono dikawal beberapa karateka senior sambil berlari. Suatu hal yang luar biasa yang sempat disaksikan masyarakat Batu, kerapian, kedisiplinan dan semangat para karateka yang tumbuh dari dirinya sendiri. Tanpa komando dan pengawasan, masingmasing mengetahui bagaimana memikul tugas dan tanggung jawabnya, khusus di hadapan mata
masyarakat Batu.
Dalam sambutan Bapak Widjojo Soejono yang berbobot ada nasehat yang sangat berguna untuk
direnungkan dan dijadikan pegangan dalam hidup ini, kutipannya sebagai berikut:‘Apabila kita bertumpu pada
harapan, maka menurut pengalaman, apabila gagal, kita akan amat kecewa dan apabila berhasil, seringkali kita
merasa diatas angin dan lupa daratan. Akan tetapi, apabila kita berusaha keras dan gagal, kita akan mampu
menyatakan pada diri sendiri bahwa akan berusaha mencoba lagi karena kegagalan adalah ibunya sukses.
Selanjutnya, apabila kita berhasil maka kita akan bisa menyelaraskan sikap kita dan kita akan bisa mengajar
diri sendiri bahwa hasil ini hanyalah oleh karena kita telah berusaha keras’.
Bapak Widjojo Soejono adalah orang yang bijaksana dan selalu berpikir dan berbicara dengan jiwanya yang
tulus, jujur dan ikhlas, khususnya yang menyangkut kemanusiaan. Kalimat-kalimat yang diucapkan selalu bermakna sangat dalam, satu segi yang jarang terdapat pada tokoh lain, kata Nardi dalam memberikan kesan akan
pribadi Bapak Widjojo Soejono, pribadi yang sangat dihormati olehnya sejak perkenalan pertama di Surabaya
1971 di rumah dinas Pangdam VIII Brawijaya di Jl.Darmo No.100. Kesan ini tertanam di hatinya dalam kesempatan
berbincang dengan beliau dan juga memperhatikan sikap dan segala langkah yang beliau lakukan.
Pada tahun itu ,1975, 27 tahun lalu dalam kesempatan omong-omong santai sebelum upacara pembukaan Jambore Nasional,
dihadapan banyak tamu, juga perwakilan media cetak, Bapak Widjojo Soejono menyampaikan pandangan dan pendapatnya mengenai pengertian berbangsa dalam satu negara, yaitu antara ASLI dan TIDAK ASLI. Pendapat beliau; kalau kita mau jujur,
maka tidak ada istilah Bangsa Indonesia Asli. Beliau tidak sependapat dengan istilah Pribumi dan Non Pribumi. Semua
diantara kita ini merupakan keturunan ras lain. Tidak ada Bangsa Indonesia asli. Yang dikatakan aslipun dahulu juga
sebagian besar merupakan keturunan Raas Mongolit dari utara. Jadi, sebaiknya tidak perlu dipermasalahkan Asli dan
Tidak Asli. Semuanya tidak asli. Saat itu beliau sudah berpandangan demikian kritis padahal tokoh lain bahkan
bersikap rasis dan membeda-bedakan keturunan seperti istilah Pri dan Non Pri yang dijadikan alasan untuk
mendiskreditkan salah satu golongan tertentu, seperti ekstrimnya bangsa Jerman dibawah Adolf Hitler yang merasa
bangsa paling unggul dan murni keturunan Ras Aria, menjadikan bangsa lain dianggapnya tak berderajat dan
bermartabat kecuali bangsa Jerman asli. Merasa diri paling murni dan bahkan bernafsu membantai bangsa lain dengan
berbagai alasan.‘Deutchland uber alles‘ semboyannya. Pikiran dan pandangan jauh ke depan ini sesuai dengan
apa yang menjadi pola pikir Nardi yang menyakini bahwa seorang pemimpin haruslah selalu memandang jauh ke
depan. Tidak boleh picik dan dangkal!. Obyektif dan rasional. Adil dan jujur.
Menjelang akhir 1975, Nardi menghadiri World Open Karate Tournament I yang diselenggarakan Kyokushinkaikan
Tokyo Honbu. Kalau All Japan Karate Open Tournament diselenggarakan tiap tahun. Waktu itu Indonesia mendapat undangan dan diberi jatah 4 orang peserta. Maka dengan berbagai pertimbangan Perguruan mengirimkan 4 peserta terdiri dari: Richard H.Soesilo, R.A.Walewangko, George Rudy dan Djoko Slamaet Riadi. Sebagai team manager Patti Rajawane, Kepala
Rombongan Bapak Kol.Moetijoso dan diikuti wartawan senior Sinar Harapan Bapak Max Karundeng.
Satu kejadian yang patut dicatat ialah; saat Richard Soesilo, karateka dengan berat badan sekitar 64 kg berhadapan
dengan karateka Sato yang tinggi besar dan berbobot sekitar 90 kg. Pertemuan langsung ini sudah bisa dilihat
sebelumnya pada Bagan Pertandingan. Karateka Sato ini ditargetkan untuk bisa menjadi juara dunia pada WOKT I ini. Nardi tahun benar Sato karena saat di Honbu tahun 1970 beberapa kali berlatih bersama sebagai karateka bertingkatan Kyuu I,tinggi dan besar dengan wajah dingin tanpa senyum. Kuat phisik dan keras baik pukulan maupun tendangannya dan 1975 ini menyandang
DAN III. Tentu saja baik Nardi terutama Richard H.Soesilo merasa was-was dan tidak luput juga dari rasa gentar.Nasehat Nardi pada Richard hanyalah; karena kamu sudah siap phisik mental, maka bertandinglah tanpa beban. Lakukan dan usahakan
sebaik mungkin demi nama baik Indonesia. Kalau sudah dilakukan maksimal, kalahpun tidak perlu disesali. Nasehat
ini seirama dengan nasehat kepada para karateka yang ditunjuk untuk menghadapi karateka dari Singapore,
Malaysia dan Australia pada tahun 1973 di Gelora Pancasila Surabaya dulu.
Apa yang terjadi? Pada saat Richard berhadapan dengan Sato diatas panggung, semua dari Indonesia berdebar
debar dan was-was. Penonton yang 90 % Jepang sebagian terbelalak matanya melihat pertandingan yang sangat tidak
berimbang dan sebagian lagi bersuara buuuu…huuu.! Laksana melihat David dan Goliath saja. Pertarungan ini
pasti akan pincang, sudah bisa diduga oleh semuanya tentunya dari penampilan nyata ini.
Pertandingan dimulai. Karateka Sato mungkin menganggap enteng lawan dari Indonesia ini dan melancarkan pukulan dan tendangannya bertubi-tubi. Richard bertahan dan tidak bergeming menghadapi serangan ini, beberapa kali
Richard dipegang dan akan dibanting, gagal! Akhirnya Richard juga mengerahkan serangan pukulan ke arah dada
dan perut Sato. Tendangan ke kaki Sato membuat dia goyah dan menyeringai. Pertandingan jadi seru.Penonton
memberi aplaus dan berbalik bersimpatik pada wakil Indonesia.
Saling menyerang terjadi dan hebatnya Richard tetap bisa meladeni Sato yang jauh lebih besar itu. Kalau
seandainya dinilai secara fair, walau bukan kemenangan dengan k.o., Richard berada diatas dan memenangkan
perkelahian bebas ini.Tetapi Sato sudah ditarget untuk menjadi Juara Dunia pada WOKT I ini. Sato sungguh terlihat
nyata kewalahan menghadapi Richard dan tak mampu mengunggulinya. Pertandingan berakhir. Richard terlihat
tetap percaya diri dan tenang. Napasnya tetap terjaga dan tidak terlihat kelelahan. Wajah Sato pucat dan terlihat agak
emosi dan malu. Richard oleh perwasitan dinyatakan kalah. Master Oyama melihat dengan wajah heran dan kagum
serta memandang ke Nardi sambil mengacungkan jempol. Kedua karateka turun sambil Sato merangkul pundak
Richard. Penonton memberi aplaus panjang bersama-sama dan gedung gemuruh, semua ini adalah rasa kagum kepada Richard. Sambil turun panggung Sato berkat:‘You’re a good fighter’.Diruang ganti, Sato tumpah-tumpah. Kalah, tetapi Richard
membanggakan sebagai wakil Indonesia. Kejadian ini membuktikan bahwa semangat, mental dan rasa percaya diri itu sering membuat kita mampu berbuat diatas ketidak mampuan menurut logika.
Ada kejadian lain yang benar-benar menunjukkan bahwa Nardi tidak mau dilecehkan walau sebagai tamu pada WOKT I ini yang hadir sebagai wakil Indonesia.
Demikian kisahnya. Karena WOKT yang diadakan di Municipal Gymnasium Tokyo ini merupakan World Open Karate Tournament I dengan sistim Full Body Contact di Jepang, maka penonton berjubel dan terjadi antrian panjang untuk memperoleh tiket sejak pagi walau dimulai pukul 10.00.
Para Petanding Indonesia bersama Petanding dari negara lain sudah disediakan tempat pada kursi baris pertama
berhadapan dengan tempat duduk Nardi beserta officials, dibatasi panggung pertandingan. Karena penonton tak
terbendung, maka gedung penuh sesak dan tempat duduk terisi semua, sedangkan di depan masih banyak yang belum
bisa masuk apalagi yang antri untuk memperoleh tiket. Panitia agak panik dan berbuat hal yang tidak semestinya karena
karcis tetap dijual tanpa memperhitungkan keadaan gedung. Tiba-tiba Mr. Peter Chong mendatangi Nardi yang duduk
sederet dengan Bapak Kol.Moertijoso dan Bapak Max Karundeng dari Sinar Harapan itu. Memang sebelumnya
Nardi melihat Mr. Peter Chong mendatangi peserta Indonesia dan dari gerakan dan mimik mulutya terlihat
adanya sesuatu yang kurang baik.Terlihat jelas Peserta Indonesia diminta untuk berdiri dan pindah ke belakang.
Nardi yang melihat gelagat tidak enak ini memberi tanda dengan tangan agar peserta Indonesia tetap duduk dan
jangan pergi. Melihat hal ini, Mr. Peter Chong mendatangi Nardi sambil bersungut-sungut berkata bahwa peserta dari
Indonesia tidak mau pindah padahal tempat sangat dibutuhkan untuk penonton yang tidak mendapat tempat.
Nardi menjawab bahwa agar tetap di tempat itu memang atas instruksinya, dan mengapa kesalahan Panitia yang
kurang memperhatikan jumlah tempat duduk dan tetap menjual tiket ditimpakan pada peserta Indonesia. Itu suatu
penghinaan apabila mereka sebagai wakil Indonesia harus terusir, padal yang lain tidak. Mr. Peter Chong marah, ini
perintah, katanya. Nardi menjawab dengan sengit pula. ‘Biarpun Kancho Oyama yang memerintahkan, saya tidak
akan memperkenankan peserta dari Indonesia pindah.! ‘Ini penghinaan!. Mr. Peter Chong pergi dengan kedongkolan
tinggi. Dendam ini dicurahkan saat ada kelompok konspirasi di Tanah Air yang didukungnya 100% hingga minta Master
Oyama memecat Nardi. Master Oyama tidak bersedia. (Ada bukti surat Master Oyama). Semua ini barangkali
makin menambah keinginan balas dendam kepada Nardi mengingat penolakan selama di Singapore 1970 maupun
di Surabaya 1973. Memang dia tidak mau mengakui kenyataan kekalahan itu, selalu berkata bahwa pesertanya
1973 dikalahkan Indonesia secara tidak fair. Padahal ribuan mata penonton, pers dan juga Bapak Widjojo
Soejono dan beberapa wakil PB FORKI serta Pejabat Teras Jawa Timur menjadi saksi.
Alangkah memalukan apabila kemenangan pada sistim full body contact ini direkayasa, karena amat nyata
siapa menang siapa yang kalah. Dimana kebanggan kami dan apa artinya Pembinaan Mental Karate kalau sifat
dan sikap tak terpuji ini kami anggap sesuatu yang wajar dan sah.
Nardi menyadari, kita boleh fanatik kepada Perguruan, kepada Negara kita Indonesia, tetapi dalam batas-batas
yang sehat dan rasional, sebab tanpa fanatisme samasekali, kita juga menjadi lemah dalam tiap perjuangan. Fanatisme
yang terarah dan menciptakan semangat tinggi dan membangun boleh-boleh saja, tetapi fanatisme yang merusak
jangan didekati bahkan jauhilah agar kita tidak menjadi manusia yang menghalalkan segala cara demi tujuan.
Sesuaikan pribadi dan sikap anda sesuai pekerjaan yang diembannya, kata Nardi. Negarawan, Politikus dan
Pengacara umpamanya pasti berbeda dalam mengekspresikan sikap dan wawasannya, kata Nardi.
Contoh ini terjadi pada Tokyo Honbu. Pada saat menghadapi event besar, Mas Oyama dihadapan para peserta Jepang
dalam pengarahannya pernah berkata; Apabila Jepang sampai kalah dan tidak bisa menjadi juara, maka beliau
akan melakukan hara kiri.Kalimat ini maksudnya memberi semangat dan motivasi kuat pada tim Jepang, tetapi
menurut Nardi kurang tepat dan tidak bijaksana, akibatnya dorongan semangat yang keliru ini menjadikan Panitia
Pertandingan secara keseluruhan berbuat apa saja,menghalalkan segala cara asal Jepang menjadi Juara.
Mereka pasti tidak ingin melihat Sanjungannya melaksanakan ancaman tersebut.Dan terbukti, ini
memang memberi efek negatif sehingga banyak hal dinilai kurang fair dari Tim Perwasitan apabila Jepang
berhadapan dengan karateka negara lain yang diperkirakan bisa menghalangi dominasi Jepang di babak berikutnya.
Pasti digunakan berbagai cara untuk menggagalkan dan menggugurkan lawan.Umpamanya;dengan draw yang
dipaksakan hingga batas maksimal yaitu tiga kali dan akhirnya, dilakukan penimbangan berat badan. Rata-rata
karateka asing berat badannya diatas karateka Jepang, kibatnya dikalahkan. Ini hanya sebagian contoh akibat
fanatisme buruk yang menghalalkan segala cara demi tujuan. Terjadilah kenyataan saat Willie William, karateka
tinggi besar dari A.S. bertanding melawan karateka tuan rumah. Nyata Willie William unggul dan menguasai jalannya
pertandingan, tetapi selalu berakhir draw dan setelah penimbangan berat badan dia dinyatakan kalah dan
penonton bersuara mengejek, tidak bisa menerima keputusan ini. Buuuu……buuuuuu….!Willie William
jengkel, diangkatnya karateka Jepang itu dengan mudah, lalu dibawanya kedepan meja Panitia Pertandingan dimana
Mas Oyama berada dan …..braaaaak…dilemparkannya karateka Jepang itu diatas meja didepan Mas Oyama.
Penonton bertepuk. Semua mata memandang kearah kejadian lalu……..?!.
Karenanya, kata Nardi; yang penting itu bukan betapa lengkap dan indahnya isi peraturan dan ketentuan yang
tertulis, tetapi tergantung sepenuhnya kepada: ‘The man behind the gun‘. Setiap peraturan dan ketentuan apapun
selalu ada celah-celahnya yang bisa digunakan untuk melindas dan menghianati kebenaran, sambungnya. Contoh
ini harus menggugah diri kita bahwa jangan sampai kita menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan.
Pembinaan Mental Karate, Perguruan ini selalu mencoba menanamkan pandangan ini walau memang sulit untuk
melahirkan pribadi-pribadi yang menjadi ragi yang baik, betapapun sedikitnya akan sangat bermanfaat bagi
sesamanya. Sebagai suri teladan. Dalam sistim yang nyata seperti Full Body Contact ini dimana bukan hanya
perwasitan bisa memberi penilaian akhir siapa menang dan siapa kalah, penontonpun bisa ikut menilai karena
nyata, masih dengan mudah direkayasa sedemikian rupa hingga mengecewakan, lalu bagaimana pada sistim yang
samar samar?. Bukankah akan jauh lebih mudah untuk merekayasa menang kalahnya seseorang. Yang pasti lebih
mudah lagi untuk tujuan tujuan sepihak. Ingat, the man behind the gun !
Tahun 1976 Perguruan mengalami musibah yang dahsyat. Delapan karateka senior ditelan ombak Pantai Ngliyep,
Malang Selatan. Pagi itu hari Minggu tanggal 5 September 1976 rombongan karateka dari Surabaya lebih dari 100 orang menuju Pantai Ngliyep dengan bis.Tahun sebelumnya jumlahnya lebih besar karena diikuti Cabang Malang, Pare, Kediri dan
semuanya berjalan dengan baik hingga larut sore mereka baru pulang dengan selamat dan penuh kegembiraan.
Pantai Ngliyep, kira-kira 100 meter dari pantai, terkenal agak curam sehingga arus balik dari pantai ke laut bisa
menghanyutkan apa saja yang berada dialurnya pada saat air laut pasang, karenanya berenang dihindari
kecuali laut dangkal pada jam-jam tertentu. Walau amat berbahaya, tidak ada tanda ‘Dilarang Berenang‘ saat itu.
Baru diberi ‘Tanda‘ setelah kejadian dibawah ini. Biasa di Indonesia yang selalu terlambat dalam mengantisipasi
kejadian. Bertindak setelah terjadi serta rasa kemanusiaan sering diabaikan.
Demikianlah dengan kisah dibawah ini. Nardi sebenarnya tidak bermaksud ikut berrekreasi karena sesuai rencana
hari Jumat tanggal 3 September akan pulang ke Batu (Kantor untuk urusan keluar berada di Surabaya waktu itu) karena
tanggal 7 September adalah hari ulang tahunnya.Karena diminta dan sangat diharapkan bisa hadir oleh Manager
Cabang Surabaya yang sekaligus sebagai pimpinan rombongan, untuk memberi wejangan kepada warga peserta
rekreasi tersebut, Nardi menyanggupinya untuk hadir tetapi berangkat dari Batu dan berjumpa di pantai Ngliyep
minggu pagi.
Sebenarnya, tujuan Manager Cabang Surabaya mengadakan kegiatan ini adalah untuk menghimpun sedikit dana untuk
keperluan cabangnya sambil bersantai.Pilihan lain adalah; menyelenggarakan Kejuaraan Karate secara sederhana.
Tetapi pilihan warga condong untuk berekreasi ke Pantai Ngliyep, Malang Selatan karena memang cukup bagus dan
bisa menawan hati pengunjung untuk datang ke pantai Pasir Putih ini.
Di Batu, malam Minggu tanggal 4 September Nardi pergi tidur lebih awal dari biasanya karena keesokan hari harus
bangun pagi agar bisa sampai di Pantai Ngliyep bersamaan dengan rombongan dari Surabaya atau datang sebisanya
lebih awal. Nardi tidak ingin terlambat, karenanya masih berpesan kepada ibunya agar dibangunkan sekiranya
hingga pukul 05.00 belum keluar ruang tidur. Malam itu Nardi tidak bisa tidur hingga larut malam, gelisah dan
merasa seluruh badannya tidak seperti biasanya. Terasa seluruh sendi-sendinya ngilu dan mata sulit dipejamkan
dan baru bisa tidur sekitar pukul 02.00. Baru saja jatuh tertidur Nardi bermimpi sangat menyeramkan (Night mare)
Nardi merasa duduk disebuah ruangan tidak terlalu besar dekat jendela dan suasana remang-remang hanya
bercahayakan sebatang lilin disudut ruangan. Tiba-tiba, dari jendela dibelakang Nardi duduk muncul sosok manusia
berwajah tengkorak dan sangat mengerikan. Mahluk menyeramkan itu tiba-tiba mengayunkan tangan kanannya
lewat jendela dan berusaha untuk menikam punggung Nardi. Seketika itu Nardi berkelit dan menghindar serta
lari ke sudut lain dari ruangan tersebut lalu tersentak dan terbangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya
dan jantung berdebar-debar serta timbul rasa ngeri dan takut yang luar biasa. Karena mimpi yang menyeramkan
ini Nardi jadi sulit untuk tidur kembali. Rasa takut masih menghinggapi dirinya dengan perasaan yang tidak enak,
akibatnya,waktu bel berdering pukul 05.00, Nardi merasa masih sangat ngantuk. Pintu diketuk oleh ibunya
untuk dibangunkan. Nardi menjawab bahwa dirinya masih ingin berbaring hingga pukul 06.00 karena hampir
semalaman tidak bisa tidur. Ibunya memahaminya.
Karena terlambat bangun, Nardi harus tergesa-gesa
mempersiapkan diri dan berangkat dalam keadaan kurang santai karena terburu-buru kuatir terlambat. Jarak Batu
sampai ke Pantai Ngliyep memakan waktu sekitar 2 jam karena jalanan juga tidak terlalu mulus. Baru berkendaraan
sekitar 15 menit disadarinya bahwa kamera yang memang dipersiapkan untuk mengambil gambar saat di Pantai nanti,
tertinggal. Dengan tergopoh-gopoh Nardi memutar kendaraan untuk kembali mengambilnya. Suasana jadi
tegang dan makin terdesak waktu sehingga rencana untuk menjemput dan mengajak salah seorang Pelatih di Malang
untuk menemaninya, dibatalkan dan Nardi terus melaju menuju Malang selatan.
Hati Nardi terus berdebar- debar. Sekitar 5 Km dari Pantai Nardi berhenti, mencoba menenangkan pikiran sambil
duduk di tepi jalan yang diayomi pepohonan yang rimbun dan sejuk.
Sampai di Ngiyep sekitar pukul 10.00 dan suasana masih sepi. Dari petugas pintu masuk, Nardi mendapat jawaban
bahwa belum ada rombongan yang datang hingga saat itu sehingga Nardi merasa lega, berarti tidak didahului
rombongan dari Surabaya.
Sambil berdiri melihat jauh kearah laut, Nardi tidak bisa lepas dari bayang bayang mimpi semalam.Tidak lama
kemudian rombongan dari Surabaya tiba dan para peserta yang terdiri dari para karateka, ada juga yang diikuti
keluarga turun, berbaris dengan rapi menuju pantai dan saat melewati Nardi, semua satu persatu menyampaikan
salam ‘Oss‘. Pantai Pasir Putih yang akan dijadikan tempat rekrerasi terletak sekitar 500 meter dari pantai dimana
terdapat Pendopo yang biasanya digunakan sebagai tempat Penginapan. Untuk mencapai Pasir Putih arah ke Barat harus
melewati dan mendaki bukit kecil yang menjadi pemisah antara dua pantai ini.
Sampai di Pantai Pasir Putih, semua berganti pakaian dengan karate gi dan diadakan latihan ringan ditepian pantai. Saat
itu, sekitar pukul 10.30 air laut agak mulai surut sehingga di tepian keadaannya dangkal, hanya sebatas lutut. Selesai
latihan ringan, warga diminta oleh para senior yang ikut saat itu untuk duduk berkeliling di pasir yang agak teduh
dari terik matahari. Akibat kengerian semalam yang dialaminya dalam mimpi, maka permintaan Nardi yang
pertama adalah; jangan bermain di laut apalagi berenang seperti tahun lalu. Berekreasilah dan bersantailah di daratan
dan bukit-bukit saja! Semua berkata ‘Oss‘ dan setuju akan himbauan ini. Permintaan ini disampaikan setelah
memberikan kata sambutan pada semua peserta. Pesan ini Nardi tekankan mengingat mimpi semalam dan kuatir hal
itu sebagai pertanda kurang baik. Untuk memperkecil kemungkinan buruk yang bisa terjadi, salah satu ialah
dengan menjauhi air laut itu sendiri. Sekiranya memungkinkan rasanya ingin minta pengertian agar rekreasi
kali ini dibatalkan karena perasaannya yang selalu was- was.
Tetapi apakah bijaksana berdasarkan mimpi membatalkan suatu kegembiraan!. Rasanya tidak sampai hati berbuat hal
yang demikian.
Tiba tiba seorang warga datang dan melaporkan bahwa rekannya, walau telah dilarang olehnya sesuai permintaan
Nardi tadi (yang terkenal pandai berenang) masuk ke laut dan berenang dengan memakai karate ginya.
Dikemudian hari warga ini mengaku kepada Nardi sambil terisak-isak duduk disebelah Nardi di tepi pantai bahwa
waktu dia masuk laut dan berenang, terasa dirinya seperti terbuai, kurang sadar apa yang diperbuatnya, akibatnya
menyebabkan korban yang demikian banyak. Dia merasa sangat terpukul hingga agak mengalami gangguankejiwaannya walau semua kejadian ini bukan mutlak kesalahannya. Dia masuk laut dan berenang terlentang ditepian karena melihat air laut yang demikian segar padahal cuaca demikian panas saat itu. Pengakuan yang jujur dan rasa penyesalannya yang dalam ini membuat Nardi menghargai sikapnya.
Segera Nardi menuju tepian pantai dan minta warga tersebut keluar dari air laut walau saat itu masih dipinggir
yang dangkal. Aneh…..! menerima permintaan Nardi untuk keluar dari air laut, warga itu langsung berusaha untuk
berdiri dan terlihat ingin segera keluar dari air, (biasanya warga selalu patuh dan taat) tetapi saat itu walau dia
berenang dengan tertelentang dan santai, tetapi usahanya untuk bangkit tidak berhasil dan malahan lambat tapi pasti
dan nyata dia malahan menjauh terbawa arus pantai menuju kedalaman laut bebas. Warga dan orang-orang umum yang
juga berada dipantai menyaksikan kejadian ini ikut terheranheran karena hal yang tidak wajar ini. Segera H. makin
menjauh menuju laut lepas terseret sekitar 200 meter ke tengah. Beberapa senior segera ingin membantunya tapi
apa yang bisa dilakukan. Dengan berenang pasti amat berbahaya, takut terseret juga karena tiba-tiba terlihat arus
balik makin kuat, hal ini bisa dilihat dari keadaan korban yang dengan cepat berada amat jauh.
Semua yang ada di pantai mulai gelisah, baik Nardi dan seluruh warga maupun pengunjung umum. Maka, melalui
seorang warga senior yang sehari-hari lebih dekat dengan Nardi, minta ijin untuk menjadikan sabuk karategi sebagai
tali yang akan disambung satu sama lain dan dijadikan alat penghubung diantara mereka yang ingin membantu
menyelamatkan H. yang terombang ambing dikejauhan.
Permintaan ijin ini dilakukan setelah usaha untuk minta bantuan pemilik perahu yang tiap hari terbiasa melaut
mencari ikan tidak berhasil, malahan dijawab dengan:‘Biar saja, nggak perlu ditolong!‘. Demikian juga, usaha untuk
meminjam tali panjang di Suatu Kesatuan sekitar enam Km dari tempat kejadian juga tidak membawa hasil, kantor tutup
karena hari minggu, disamping memang tidak tersedia. Tidak ada lagi harapan untuk meminta bantuan dari pihak luar.
Penjaga pantaipun tidak tersedia dan bahkan para karyawan Pesanggrahan yang melihat kejadian ini tetap berwajah santai
seperti tidak terjadi sesuatu yang berarti. Permintaan warga ini dengan terpaksa dikabulkan Nardi dengan pesan agar
tetap berhati-hati, karena sudah tidak ada kemungkinan lain. Maka serentak seluruh warga melepas sabuk karate
ginya dan segera oleh para senior diikat satu sama lain dijadikan sebuah tali panjang.
Keganjilan terlihat nyata. Warga yang terseret arus ini bisa bertahan di kejauhan lebih dari 30 menit. Dia melambailambaikan tangannya saat diangkat ombak keatas dan hilang saat ombak merendah, tetap di tempat yang sama laksana
alat pembatas dilaut yang terapung-apung di satu titik. Barangkali keadaan ini semacam umpan agar lebih banyak
yang masuk laut, yaitu mereka yang ingin menolong sesamanya karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu hingga
membuat Nardu mengalami kesedihan. Ini mereka katakan satu sama lain sesuai laporan yang diberikan kemudian.
Barisan karateka yang turun ke laut berjalan di kedangkalan sambil berpegangan sabuk yang merupakan
tali penghubung satu sama lain menuju korban. Bagian ujung sudah sangat dekat dengan korban dan hampir bisa meraih
tangan korban.. Korban memang seperti berada di batas antara laut yang dangkal sedalam dada dan tepian jurang
pantai yang menurut para ahli, menyebabkan arus balik bagaikan air terjun jatuh kekedalaman dengan kuat dan
deras melewati dinding batas yang berlubang lubang menjorok jauh kearah tepian dibawah pantai. Baru saja Nardi
menoleh melihat ke warga yang berdiri di pantai, terutama yang puteri sambil berseru: ‘Teruslah berdoa, pasti
tertolong‘.Tiba tiba, tanpa terduga ombak besar yang sebelumnya tak pernah terjadi datang bergulung-gulung
dengan dahsyat menghantam rangkaian penolong. Semua yang di pantai berteriak histeris melihat kejadian ini. Barisan
penolong terkena hantaman yang dahsyat ini menjadi porak poranda dan rangkaian satu dan yang lain terputus,
terapung apung berserakan. Nardi berteriak- teriak minta mereka segera kembali ke Pantai dan semua berdoa untuk
mohon kerselamatan bagi para karateka yang tercerai berai itu. Air laut menjadi tenang dan baru saja Nardi
membalikkan badan ke arah mereka yang di pantai sambil berteriak mengatakan bahwa doa telah didengar olehNYA,
terlihat dengan makin tenangnya air laut, tetapi tanpa ampun, ombak lebih besar yang kedua datang menerjang dan
menghantam sekali lagi para karateka yang masih tercecer di laut dan sedang berusaha berenang ke Pantai. Sebagian
sudah selamat sampai di Pantai, tetapi mereka yang berada di bagian ujung yang jauh dari Pantai masih belum sempat
mengamankan diri, dihempaskan dan makin dicerai beraikan untuk keduakalinya. Benar benar suatu malapetaka.
Sebagian, tidak tahu jumlahnya waktu itu, hanyut dengan cepat ke tengah laut. Nardi selalu terbayang tangan dan wajah mereka yang dari kejauhan dan makin jauh melambai lambai terus meminta pertolongan, sedangkan yang di pantai
tidak bisa berbuat apa-apa. Warga yang berdiri di tepi pantai menangis melihat kejadian ini. Masyarakat umumpun tidak
sedikit yang ikut berteriak, menangis dan bersedih hati sedangkan petugas sambil bersilang tangan di dada melihat
ini semua hanya sebagai tontonan belaka.Tanpa emosi sedikitpun di wajahnya. Dengan cepat para karateka yang
teseret arus ini menghilang dari pandangan.Yang aneh, justru korban pertama yang semula ingin ditolong itu bisa
selamat terdampar diatas sebuah batu karang. Dua warga yang tersangkut di atas batu karang dalam keadaan payah
juga masih terselamatkan oleh senior W. yang memang diminta oleh Nardi untuk terjun lagi kelaut walau dia
sebenarnya sudah kepayahan karena baru saja selamat dari amukan ombak yang dahsyat. Nardi dan yang lain mengikat
badannya dengan tadi nylon yang datang terlambat, sambil dipegang pada ujung tali, W. berenang menuju korban yang
terdampar di sebuah batu karang jauh di laut dan sanggup menyelamatkan kedua warga ini dengan tali nylon tetap
melilit pada tubuhnya. Penyelamatan kedua korban berhasil dengan baik walau yang seorang sudah sangat kritis dan
menelan banyak air laut sehingga wajahnya membiru, tetapi terselamatkan.
Kejadian tragis juga terjadi. Salah seorang warga yang sudah berkeluarga ikut berserta istrinya.Saat itu dia sedang
duduk disamping si istri sambil menyantap roti yang dibawanya. Melihat rekan-rekannya berusaha menolong
korban dengan mengikat diri pada rangkaian sabuk karategi, iapun ingin ikut membantu tetapi dilarang oleh istrinya
menyadari suaminya tidak begitu pandai berenang. Maka, dengan sedikit tipuan agar istrinya pergi
mengambilkan kue lagi untuknya, dia melompat lari dan ikut terjun dalam barisan penolong ini. Diapun menjadi
salah satu korban diantara karateka yang hanyut dan tenggelam di laut selatan.
Setelah kejadian ini, semua dikumpulkan dan dari laporan Pimpinan Rombongan ternyata delapan karateka terbawa
arus laut dan hilang. Sore itu rombongan kembali ke Surabaya dan sejak itu Nardi tinggal di Pantai, bermaksud menunggu sekiranya ada jenasah yang terbawa arus kembali ke Pantai. Selama hampir dua minggu, seorang diri tanpa teman, terutama diwaktu malam hari. Siang hari masih terhindar dari kesunyian, lebih ramai, ada saja, baik dari warga Perguruan maupun dari
keluarga korban ataupun pengunjung umum yang ingin tahu kejadiannya. Tetapi di malam hari setelah pukul 18.00
suasana mulai mencekam, pendudukpun tidak banyak keluar kecuali beberapa dukun yang pada larut malam coba
menakut-nakuti Nardi agar mau membayar untuk sesajian arwah ke delapan karateka untuk bisa didatangkan
jenasahnya ke pantai kembali. Nardi tidak menanggapinya. Keadaan benar sunyi sepi di malam hari. Masyarakat sekitar
heran bagaimana Nardi bisa bertahan. Ada dugaan bahwa dirinya pasti mempunyai ilmu untuk ini semua, padahal
tidak samasekai. Semua ini hanya karena tekad dan konsentrasinya terhadap rasa tanggung jawab yang berada
dipundaknya Malam hari sekitar pukul 23.00 – 24.00 Nardi seorang diri setiap kali menelusuri pantai dimana terjadi
musibah ini, harus melewati bukit sekitar 500 meter tadi sebelum sampai di Pantai Pasir Putih. Beberapa senior yang
berkunjung malam hari pernah diajak Nardi melewati jalan ini. Mereka bisa meraskan keseraman saat seperti itu, hari
yang gelap gulita. Nardi sangat ikhlas memikul tanggung jawab sepenuhnya musibah ini walau dia hadir atas
undangan Cabang Surabaya, tetapi sebagai Pimpinan Perguruan dia layak betanggung jawab penuh. Sore itupun
langsung dikatakan bahwa semua tanggung jawab berada di pundaknya. Sore itu juga Nardi kembali ke Batu untuk
mengambil perlengkapan secukupnya untuk tinggal di Pantai dan segera kembali lagi.
Malam itu dari keluarga korban banyak yang datang. Sebagian marah-marah sejak mendengar berita ini dari
Manager Cabang Surabaya dan warga yang kembali ke Surabaya. Berita duka ini cepat tersiar secara luas. Malam
itu Nardi sengaja duduk di salah satu ruangan sambil membuat catatan mengenai hal penting sebagai laporan
sekiranya diminta oleh Pejabat yang berwenang dan sengaja membelakangi pintu masuk. Ini bukan sikap melecehkan
kehadiran keluarga yang dipastikan ada yang datang untuk minta pertanggung jawaban.Tujuannya ialah, sekiranya ada
keluarga yang tidak bisa menerima musibah dan kejadian ini dan ingin melampiaskan kemarahannya pada Nardi, ia
siap dan menerima sebagai konsekuensi yang wajar. Bahkan di Surabaya sudah terdengar ada saudara dari korban yang
marah dan mengancam untuk balas dendam atas kejadian ini. Berita ini diterima Nardi dari orang yang datang malam
itu diluar keluarga dan bersimpatik untuk minta Nardi berhati-hati. Nyatanya, keluarga datang hampir menjelang
tengah malam.Mereka masuk dengan sopan dan dipersilahkan untuk duduk berhadapan dengan Nardi.
Dijelaskan semua kejadian secara rinci. Mereka bisa menerima dan suasana ketegangan berubah menjadi kekeluargaan.
Dari ke delapan karateka ini akhirnya setelah beberapa hari ditunggu hanya bisa diketemukan kembali mulai hari Rabu
tanggal 8 September dan Kamis tanggal 9 September tiga jenasah saja dan langsung diidentifikasi dan dikenali oleh
Nardi sendiri.
Hari Selasa tanggal 7 September, dua hari setelah kejadian, adalah hari ulang tahun Nardi. Kebetulan banyak
warga Perguruan hadir dalam jumlah lumayan sejak pagi hari, sambil bersama sama duduk di Pantai melihat ke arah
laut mengenang kejadian naas hari minggu yan lalu. Tibatiba disaksikan oleh semua yang berada di Pantai, baik warga
maupun pengunjung umum yang sejak hari Senin memang banyak yang datang untuk melihat tempat kejadian, sekitar
jarak 80 meter kearah laut, terlihat berderet-deret lewat terapung bentuk jenasah kedelapan karateka di depan
orang orang yang berada di pantai dan terus menghilang lagi dibawa arus seperti kejadian hari minggu lalu dua hari lalu. Yang aneh, seorang warga yang menjadi korban saat itu memakai ikat kepala dan pada waktu kejadian hari Selasa
itu juga masih tetap memakai ikat kepala. Sebenarnya tidak mungkin terjadi, pasti terlepas sudah ikat kepalanya.
Mungkin ini hanya sebagai tanda bayang bayang saja, tetapi yang aneh, kalau yang melihat kejadian ini hanya
satu dua orang, ada kemungkinan hanya halusinasi, tetapi ini dilihat demikian banyak warga secara bersama-sama,
juga para pengunjung umum yang berada di pantai. Seorang anggota dari Sidoarjo, seorang ABRI, saat melihat kejadian
ini berteriak-teriak sambil menangis histeris. Saya akan ke Bupati untuk minta agar jenasah dicari kembali,
teriaknya.Warga yang saat itu berada di pantai tertegun. Semua terdiam dan merasa agak menyeramkan. Suatu
misteri, seolah olah para karateka almarhum memberi selamat ulang tahun kepada Nardi, ucap seorang warga
senior menyaksikan ini semua.
Bapak Widjojo Soejono yang waktu itu menjadi Pangkowilhan di Ujung Pandang sempat datang bersama Bupati Malang dengan helikopter, malahan beberapa saat berkeliling diatas permukaan laut dalam radius yang cukup luas untuk melihat dari udara, mungkin bisa ditemukan jenasah para karateka yang lain disamping yang sudah terdampar
kembali. Hasilnya nihil. Pada kesempatan yang memungkinkan, Nardi sambil meneteskan air mata juga menyampaikan secara terus terang, mohon bantuan dana dari Bapak Widjojo Soejono karena memang saat itu tidak ada dana tersedia untuk rencana pemakaman kelak, juga untuk biaya lain, sedangkan keluarga dari korban yang mampu tidak menyadari bahwa Perguruan merasa berat memikul beban pembiayaan ini. Bapak Widjojo Soejono secara ikhlas memberikan bantuan cukup besar sesuai nilai waktu itu. Nardipun mengorbankan salah satu yang dimilikinya sekedar untuk mempersiapkan hari pemakaman yang
direncanakan yang akan diberangkatkan dari Pusat Perguruan nanti.
Setelah hampir dua minggu tidak diketemukan jenasah lagi dan kemungkinannya sudah tidak ada, maka
diputuskannya pada hari Jumaat tanggal 17 September, minggu kedua setelah kejadian, jenasah tiga karateka yang
sudah berada dalam peti jenasah, dibawa kembali ke Gedung Pusat di Batu dan kelima peti yang lain diisi dengan
pakaian dan milik almarhum secara simbolik, disemayamkan bersama-sama di Gedung Pusat.
Suasana mengharukan terjadi. Keluarga datang dan memberi salam kasih sayang dan hormat kepada
puteranya, saudaranya dan mungkin teman baiknya. Berita kejadian ini menyebar keseluruh Tanah Air karena saat itu
nama Perguruan, Kyokushinkai Karate (Oyama Karate) sudah cukup dikenal. Berita musibah ini tidak hanya
menyebar ke segala penjuru Tanah Air, bahkan di Jerman, Kanada pers memberitakan. Mungkin juga di negara-negara
lain dimana Kyokushinkai Karate juga berkembang. Upacara pemakaman ke delapan karateka
merupakan upacara pemakaman terbesar di Batu hingga kini. Beribu- ribu orang hadir bukan dari masyarakat Batu saja, tetapi sejak sehari sebelumnya sudah banyak orang dari luar kota datang untuk menghadiri dan menyaksikan kejadian langka ini. Warga dari seluruh Cabang banyak yang hadir untuk menghadiri upacara pemakaman ini. Sembilan lubang dan sembilan peti jenasah sudah disiapkan, yang satu untuk Nardi apabila saatnya kelak tiba, yaitu lobang ke sembilan. Nardi minta semua karateka melepas sabuk tingkatan sehingga tidak ada perbedaan senior dan junior. Pakaian karate jadi polos semua tanpa sabuk. Menandakan dalam keadaan duka ini semua benar-benar dalam kebersamaan. Kedelapan peti jenasah setelah upacara penghormatan selesai, diangkat di atas bahu para karateka secara bersama- sama dan bergantian melalui jarak sekitar satu
km menuju pemakaman. Saat peti jenasah sudah sampai di tempat pemakaman, pengantar masih banyak yang mulai
beranjak dari muka dojo pusat. Bisa dibayangkan banyaknya masyarakat yang terlibat arak-arakan ini. Terbukti Perguruan
dan Kyokushinkai Karate mendapat simpati luas. Pasir penutup lobangpun khusus didatangkan dari pantai
Ngliyep. Putuh bersih. Hingga kini Makam Kedelapan Karateka ini berdiri di kaki Bukit Panderman, Batu.
Makam ini bahkan menjadi lebih terpelihara dan layak setelah beberapa warga dari Surabaya beberapa tahun
lalu mengumpulkan dana untuk pembagunannya. Peristiwa ini memang sesuatu yang menyedihkan bagi
keluarga yang ditinggalkan dan tragedi bagi Perguruan yang amat dahsyat. Delapan karateka dalam sekejap
hilang dan meninggal dunia secara mengenaskan. Perguruan merasa sangat kehilangan, tetapi semuanya ini
memberi hikmah tersendiri, yaitu rasa ikatan persaudaraan didalam Perguruan terasa makin tebal dan nyata dan
bagi Nardi sendiri merupakan cambuk untuk lebih mawas diri dan bersedia sepenuhnya berkorban demi
kelangsungan Perguruan betapa halangan dan ujian tetap menghadang.
 Makam ke 8 Karateka setelah dipugar saat ini
Cerita Kedelapan Karateka ini yang oleh seorang Suster dari Sang Timur diusulkan untuk diberi gelar
‘Pahlawan Cinta Kasih‘ disetujui Perguruan, cerita ini menyita halaman yang cukup banyak. Hal ini karena
kejadian yang memilukan ini jelas membuktikan adanya rasa kebersamaan, kekeluargaan, persahabatan dan
toleransi serta sangat besar rasa ikatan antara sesamanya sehingga timbul kepedulian yang tinggi dan berani
berkorban diri sampai nyawapun. Diantara para senior Perguruan selalu diharapkan tetap adanya rasa
kebersamaan dalam ikatan yang kuat, bisa tertanam dengan nyata dan menjadi suri teladan koheinya, generasi
berikutnya. Sayang, apabila sesuatu yang indah ini disangkal dan diganti dengan sikap egoisme tinggi
sehingga rasa kebersamaaan yang menjadi kekuatan dan ketahanan Perguruan, sirna dan musnah. Sungguh sayang.
Sebuah batu marmer besar yang diukir nama kedelapan karateka dan sedikit memori peristiwa
yang ditancapkan kuat pada sebuah batu karang, setiap kali dirusak sedikit demi sedikit oleh
pengunjung hingga habis. Kita selalu belum bisa menghargai monumemt dengan saling menjaganya. Sayang!
Tahun 1978 diselenggarakan Jambore Nasional II di Kaliurang, Jogjakarta (waktu itu Yogyakarta). Jambore ini
sedang-sedang saja dan saat itulah terasa ada gejala yang kurang sehat. Terasa ada sesuatu konspirasi halus
yang mulai bergerak mendekati Nardi, kenangnya. Ternyata belakangan benar, dipicu oleh World Open
Karate Tournament II tahun 1979, yang sudah bermula pada WOKT I, 1975 meledaklah pada tahun 1980 suatu
usaha konspirasi dengan Singapore, oleh seorang Senior Perguruan yang termotivasi juga oleh pemikiran bekas
asuhannya yang kemudian berbalik mengasuhnya dan salah seorang Pimpinan Perguruan di Indonesia dalam
mempersiapkan suatu move dikemudian hari. Sudah terjadi penyusunan strategi untuk pada suatu saat bergerak
baik horizontal mapun vertikal.
Mimpi-mimpi Nardi ( bukan klenik ) sebelum semua ini terjadi menggambarkan apa yang benar muncul sebagai kenyataan di kemudian hari. Seandainya kami tidak kompak dalam persatuan dan kesatuan yang kuat dan
kokoh, akan cerai berai dan runtuhlah sendi Perguruan ini. Nardi, berdasaskan mimpi-mimpi tersebut
sebelumnya, laksana sudah bisa memprediksi dalam gerakan ini siapa motivatornya (dalangnya), pionnya,
bagaimana nanti kelanjutan dan efek apa yang timbul pada Perguruan. Semuanya ini bukannya karena Nardi
bisa meramal melalui mimpi, melainkan berdasarkan mimpi-mimpi yang saling berkaitan dan berkesinambungan ini
seperti sebuah warning baginya, terasa amat nyata dan gamblang. Hal ini sering dialaminya hingga kini asal mimpi
itu tergambar secara nyata. Terlihat skenario untuk memecah belah Perguruan dalam hubungannya dengan
Tokyo Honbu dan Master Oyama sendiri. Kata Master Oyama dalam surat beliau sekitar tahun 1980 yang
berbunyi: ‘You’re the next Chairman’ mempercepat kematangan gerakan agar Perguruan kacau balau dan
rencana Master Oyama tidak terlaksana. Siapa yang paling getol bergerilya dalam hal ini tentunya bisa
diperkirakan. Karenanya, saat sekitar 1982 gejala ini mulai meletus, Nardi sudah siap mental untuk menghadapinya.
Keadaan ini memang sudah terencana dengan rapi dan lama. Bahkan orang dari PB FORKI pun yang juga salah
seorang Pimpinan Perguruan Karate terlibat langsung dalam konspirasi ini. Nardi tidak hanya menduga, tetapi
rangkaian alasan dan bukti-bukti nyata ada padanya. Mengenang ini semua sekedar untuk mengingatkan kita
semua didalam Perguruan untuk mempertebal semangat dalam memperjuangkan cita-cita Perguruan sehingga
menyadari bahwa kekuatan apapun yang menghadang, dengan persatuan dan kesatuan serta tekad yang
berlandaskan kebenaran tidak akan sanggup melikuidasi eksistensi Perguruan dan yang utama; lindunganNYA. Ini
yang sering dialami Nardi sepanjang masa hidupnya yang tiada habis-habisnya dilanda problim yang tidak ringan,
tetapi selalu lolos dan terlepas karena kemurahanNYA tadi. Api ini muncul karena rasa ketidak puasan akibat tidak
memahami strategi yang ada pada diri Nardi.
Pada World Open Karate Tournament II tahun 1979
Nardi diberi kenaikkan tingkat menjadi DAN IV di Tokyo. Peserta yang dikirim waktu itu dua orang karateka dan
belum mampu menampilkan prestasi karena ada segi ketidak beruntungan. Didik Soetjipto yang nyata unggul dari karateka
Iran yang jauh lebih besar terpaksa mundur dari pertandingan karena pergelangan tangan kanannya terkilir
berat akibat pukulan-pukulannya yang bertubi-tubi ke arah dada dan perut lawan sehingga lawan tak berdaya, tetapi
malang, pergelangan tangan kanannya dalam posisi yang kurang tepat dan terkilir. Andy Susila terpaksa bertanding
dalam keadaan yang masih lelah tidak fit karena saat itu kami semua berdebar-debar, karena sampai pertandingan
dimulai belum juga muncul. Andy Susila memang terpaksa berangkat sendiri, tidak bisa bersama-sama dengan kami
karena satu dan lain sebab yang tidak mungkin dihindari sehingga harus menyusul dengan waktu yang amat mepet
tadi. Gedung Tokyo Municipal Gymnasium menjadi saksi saat Andy Susila baru datang, belum sempat menenangkan
dan mengkonsentrasikan diri, harus berhadapan langsung dengan karateka tuan rumah. Ini bukan mencari-cari alasan,
tetapi kenyataan tersebut merupakan kekurang beruntungan. Lagi pula, dalam undangan ke WOKT II ini
sudah terlihat betapa Tokyo Honbu mulai tidak konsisten dan berbuat hal yang tidak semestinya, membuat Nardi
kecewa dan menyadari pengaruh dan konspirasi di Tanah Air dan Singapore mulai mendapat dukungan Honbu.
Perguruan ini memang unik. Dalam perjalanannya memang banyak mengalami berbagai rintangan.
Tetapi apapun yang terjadi, tekad tetap menyala. Sampai Perguruan berusia 35 tahun ini, masih banyak pribadi yang
konsisten dan mencintainya dengan hati yang tulus dan ikhlas. Suatu kekuatan berharga dan tak ternilai. Tahun
1981 Perguruan menyelenggarakan Kejuaraan Asia Pasifik di Senayan, Jakarta. Kalau dilihat dari peserta luar negeri,
maka ini adalah Kejuaraan Internasional II setelah tahun 1973 di Gelora Pancasila Surabaya.
Negara yang diundang dan hadir disamping Jepang adalah Singapore, Malaysia, India, Sri Lanka, Selandia Baru,
Australia dan tuan rumah Indonesia. Kejuaraan ini didominasi karateka Jepang dan Indonesia hanya menduduki
tempat ke empat oleh Oscar Sujono dari A.Yos Dojo Batu. Karateka Indonesia sudah berjuang maksimal walau akhirnya
kandas dan mengakui dominasi Jepang saat itu karena karateka Jepang yang datang adalah karateka Uchi Deshi,
karateka yang memang hidupnya khusus untuk karate (semacam abdi dalam barangkali) sambil mengabdikan diri
bekerja di Tokyo Honbu. Mereka memang layak memenangkan posisi terhormat dalam kejuaraan ini dan
Tokyo Honbu mengirimkan dua karateka ini juga dengan perhitungan yang pasti agar bisa menjunjung nama Tokyo
Honbu dan Jepang sendiri. Kami memakluminya dan menerima semua ini sebagai kenyataan.
Saat kejuaraan ini berlangsung, makin nyata terlihat bahwa Master Oyama mulai termakan pendiriannya oleh
kekuatan perlawanan yang kebetulan saat itu didukung oleh orang-orang yang berada pada pucuk pimpinan olah raga
di Indonesia karena koneksi kuat dari motivator, sekarang terkenal dengan istilah KKN yang pada waktu itu istilah ini
memang belum dikenal. Master Oyama yang semula sangat senang dan mendukung Kejuaraan Internasional ini dan
berjanji pasti hadir pada saat sudah mendekat harinya mulai berulah dengan berbagai alasan, menjengkelkan
Panitia dan kami semua di Indonesia, karena sebentar menyatakan hadir melalui tilpon lalu tiba-tiba berubah
menyatakan tidak jadi hadir. Pasti terjadi semacam transaksi seperti dalam dunia perdagangan dengan kelompok yang
berkonspirasi terhadap Perguruan dan bahkan mungkin semacam dagang sapi, pikir Nardi dan akhirnya kedatangan
Master Oyama diwakilkan sahabatnya, seorang pengarang dan Madam Oyama serta seorang dari Tokyo Honbu
Committee. Nardi mempunyai bukti bahwa konspirasi ini benar ada, bekerja dengan orang yang dahulu merupakan
kepercayaan Nardi sendiri, orang dalam, sudah terencana dengan rapi, sistimatik dan matang. Tuhan Maha Besar.
Seperti semula selalu membantu dan melindungi Nardi saat dalam ketidak berdayaan, maka kali inipun, kekuatan tetap
berada dan berpihak pada Nardi dan Perguruan. Saat itu Perguruan memang mendapat hantaman secara frontal dari
berbagai kekuatan yang ada.
Kekuatan yang menghantam ini memang hebat, terdiri dari orang-orang dalam sendiri, orang-orang yang dekat dengan Nardi sejak berdirinya Perguruan. Orang-orang dari top organisasi olah raga di Indonesia dan juga pimpinan satu Perguruan Karate anggota FORKI, Ketua Asia Tenggara dan direstui bahkan didukung Pimpinan Tokyo Honbu. Ini semua akibat kuatnya lobby dan janji-janji penuh harapan.
Lobby yang menjanjikan ini memang sukses secara lahiriah tetapi secara bathiniah merasa kecewa karena mental dan
tidak membawa hasil yang signifikan. Mereka semua bertaut tangan, berderet ingin menunjukkan secara bersama-sama
akan menghancurkan Perguruan ini. Master Oyama tergiur dan lupa akan perjuangan Nardi memperkenalkan nama
Kyokushinkai Karate dan Mas Oyama di Indonesia. Master Oyama jadi lupa ketika pada All Japan Karate Open
Tournament 1972 minta Nardi berdiri diatas podium pertandingan sambil memberikan Tanda Penghargaan
Khusus baik atas nama pribadi maupun Kyokushinkai-Kan, menyatakan dihadapan penonton bahwa Nardi adalah
Branch Chief dan Chief Instructor untuk Indonesia serta dukungannya yang kuat. Tetapi, segala bisa berubah karena
ada kekuatan yang maha dahsyat dan kadang sanggup membalik gunung menjadi danau!. Pertemuan di Gedung
KONI yang memantapkan kelompok penentang Perguruan sebagai kekuatan yang direstui, merasa diatas angin. Nardi
tidak bisa menghubungi Master Oyama malalui tilponpun walau Master Oyama beberapa kali mencoba menghubungi
Nardi melalui tilpon adiknya di Jakarta karena betapapun sudah mendapat pengaruh kuat, mungkin masih timbul
keraguan terhadap arus yang ingin memojokkan Nardi ini. Memang, oleh mereka dikesankan Nardi tidak menghargai
kedatangan Master Oyama dan tidak mau menjumpai padahal Nardi sudah siap di Jakarta. Perwakilan Perguruan
yang sah sebagai anggota FORKI yang ingin mengikuti pertemuan segaja dipermalukan dan dilarang masuk. Wakil
Perguruan yang sah dilecehkan !. Nardi memang dilarang beberapa senior untuk datang sendiri menghadiri pertemuan
di KONI itu agar jangan sampai Nardi yang dilecehkan langsung dan benar. Padahal Nardi adalah Penanda Tangan
terbentuknya FORKI 1972. Sungguh terlalu dan bahkan Ketua Umum PB FORKI waktu itu di Harian Merdeka
dengan gaya mengejek menantang Nardi untuk datang ke Jakarta, padahal Nardi memang sudah di Jakarta.
Seperti pada saat kejadian di Pantai Ngliyep 1976 yang diramal banyak orang bahwa Perguruan Pembinaan
Mental Karate Kyokushinkai Karate Do Indonesia akan tenggelam, ternyata tidak benar dan kali inipun Nardi diam
hampir selama dua tahun mengantisipasi dengan tenang segala gejolak yang akan muncul. Ternyata tidak terjadi
dan semua berjalan dengan lancar dan normal saja..Tiada lain yang pertama diucapkan dari bathinnya kecuali
memuliakan namaNYA yang selalu mengayominya. Perguruan tetap berkembang dan terus melaju. Daerahdaerah
di luar Jawa seperti Sumatera Selatan, Sumatera Barat, KepulauanRiau, Sumatera Utara, Bali, NTB, NTT,
Timor Timur di Elmeira dan Dili serta Irian Jaya (Papua), Kepulauan Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat,Kalimantan Timur menjadi bagian Perguruan waktu itu.
Semuanya ini karena warga Perguruan yang berdedikasi tinggi, sehingga dimana saja mereka berada selalu ingat dan
ingin membantu dan ikut mengembangkan Perguruan.
Hal ini juga dialami saat Perguruan mulai tumbuh. Menjalar hampir ke seluruh kota strategis di Jawa Timur dan lainlain kota khususnya di pulau Jawa tumbuh kegiatan. Para pelatih senior pada umumnya bersedia mendarmabaktikan diri serta mau berkorban demi Perguruan. Pada permulaan semua berjalan dengan indah sesuai garis dan tujuan semula. Mereka seolah-olah sebagian bergerak ke arah Timur dan sebagian ke arah Barat dalam ikut melebarkan sayap Perguruan bersamaan dengan tumbuhnya kaderkader muda yang menyebabkan makin berkembangnya benih yang dahulu tumbuh di kota kecil, merayap ke seluruh Pulau Jawa dan sampai keluar Jawa sekalipun.
Pada dasarnya Master Oyama sangat senang dan dekat dengan Nardi karena hubungannya dengan berkorespondensi sejak 20 tahun lebih. Saat tinggal di Honbu dan beberapa kali berjumpa antara 1970 – 1982. Hanya mungkin keinginannya dan juga dari Tokyo Honbu Committee sulit dipenuhi dan dilaksanakan di Indonesia. Nardi dan Perguruannya selalu ingin dan berkepentingan
untuk menjaga nama baik secara keseluruhan di Tanah Air sehingga membuat Honbu mencari channel lain yang bisa
memenuhi harapan dan permintaan Honbu.(Sinar Harapan).Tahun 1981. Pada kejuaraan Asia - Pasifik itu,
melalui Upcara sederhana sebelum Kejuaraan Internasional berlangsung, diserahkan Tingkatan DAN V melalui wakil
Master Oyama dan surat pernyataan menyesal tidak bisa hadir. Pada akhir 1981 itu Nardi pergi ke Jepang lagi
bersama ibunya untuk beberapa saat, karena 1980 ayah Nardi meninggal dunia dan Nardi ingin menghibur ibunya
ke Jepang, Taiwan dan beberapa negara Asean. Bagaimanapun Master Oyama merasa ada yang tidak
pantas terjadi.(Surat surat beliau sebagai bukti). Di Jepang, pada All Japan Karate Tournament 1981
Master Oyama masih menyempatkan mendatangi dan memberi salam ibu Nardi di Gedung Pertandingan dengan
ramah dan penghargaan sewajarnya. Surat-surat beliau bernada menghimbau agar Nardi tetap loyal dan walau
ingin memisahkan diri ke lain aliran, agar tetap berhubungan baik dengan Honbu. Kesan ini muncul pada diri Master
Oyama karena fitnahan yang terus menerus bahwa Nardi tidak loyal. Padahal bagi Nardi, Master Oyama itu laksana
orang tuanya sendiri. Kesalahan yang dilakukan juga perlu diluruskan tetapi tidak pernah dipungkiri bahwa dirinya
adalah founding father Kyokushinkai Karate yang akan dihormati selamanya. Tetapi Nardi tidak ingin bersikap
hormat buta. Mengikuti apa saja walau tidak semestinya. Nardi mempunyai prinsip hidup sendiri.
Organisasi Seni Bela Diri seperti karate ini jangan dikelola dan ditangani layaknya sebuah organisasi politik,
masa dan sejenisnya yang banyak intrik dan kongkalikong, pagi kedelai sore tempe, pagi teman sore lawan apalagi
dengan dasar dasar hukum dagang yang mengutamakan profit making dan profit taking.
Hubungan bathin memegang peranan utama dan tidak bisa dikesampingkan. Tidak ada majikan (Boss) dalam Perguruan
ini. Semuanya dilandasi rasa saling menghormati dan saling menghargai. Sumbangsih kepada Perguruan dan sebaliknya
harus berdasarkan itikad murni demi pembinaan phisik – mental spiritual generasi muda khususnya, menuju pribadi
yang sehat lahir bathin. Pro Patria Et Populo – Untuk Nusa dan Bangsa.
Mungkin dari 1000 orang yang diharapkan belum tentu tumbuh satu benihpun yang bersedia dan mau
mencurahkan sebagian besar tenaga dan pikirannya untuk cita-cita ini. Hal ini bisa dimaklumi apalagi pada masa
sekarang tuntutan mencapai karier lebih besar dan mendesak. Tidak bisa dikesampingkan.
Manusia perlu mawas diri. Manusia yang hanya melihat kelebihan dirinya sendiri, akan menjadi pongah, congkak,
angkuh penuh kesombongan, ingkar diri dan hanya memandang ke atas, ke langit dan bintang-bintang saja dan
terperosok lobang atau tergelincir karena batu kecil, bahkan ada yang berani menatap matahari yang berakibat fatal.
Sebaliknya, manusia yang hanya melihat kekurangan pada dirinya dan selalu menunduk, kepalanya akan terantuk,
menjadi rendah diri, kehilangan rasa percaya diri, cepat putus asa dan tidak berani menatap hari depan serta sering
merasa gagal dan menjadi apatis. Kedua sifat dan sikap ini harus kita jauhi demi menatap
hari depan dan hidup dalam lingkungan sesamanya yang sering bersifat kejam dan angkara murka serta penuh keserakahan.
Sebaiknya, mengisi kekurangan-kekurangannya dengan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinya betapa kecilnya
semampu mungkin dan yang memiliki kelebihan menyadari bahwa kelebihan yang dimilikinya itu tidak terlepas dari
kekurangan-kekurangan sebagai manusia. Tiada sesuatu yang sempurna di bumi ini. Maka berjalanlah dengan
memandang jauh ke depan tanpa menatap langit terus menerus atau menunduk ke bumi sepanjang jalan. Dengan
ini semua manusia akan berkepribadian, luas pandangannya serta stabil, tidak sombong dan pongah apalagi
menempatkan diri di awang-awang.
Dikatakan oleh Nardi, sejak berdirinya Perguruan Mei tahun 1967 selalu dihidupkan dan dibina semangat pada
diri Nardi sendiri terutama yang coba dipancarkan kepada para pengikut dan pendukungnya sifat dan sikap seperti
rasa percaya diri, saling menghargai dan menghormati, saling mempercayai dan penuh ikatan persaudaraan. Nardi mohon
didalam memimpin Perguruan diperlakukan secara wajar wajar saja walau secara kebetulan sebagai Pendiri (Founding
Father) dan Pimpinan Perguruan dan bisa dianggap dan diterima secara kesadaran tinggi disamping sebagai Pendiri,
Pimpinan, Bapak jugas sebagai saudara, partner maupun teman agar ada interaksi, keterbukaan, dialog dan
komunikasi satu sama lain yang selalu hidup didalam Perguruan. Ini penting untuk menjaga adanya
kesinambungan dan hubungan yang harmonis disela segala tindak dan ketegasan sebagai ciri khas Perguruan. Pernah
diusulkan sekitar 1977 oleh motivator perpecahan Perguruan ini, agar Nardi dihindarkan dan dijauhkan dari
warganya untuk menjaga kehormatan diri dan tidak mudah bersentuhan dengan pembantunya apalagi warga. Nardi
tidak bisa menerima keadaan seperti ini. Keadaan ini merupakan suatu jebakan dan belenggu yang seolah-olah
menempatkan Nardi di dalam cungkup kaca tebal, bisa melihat dan dilihat tetapi sulit berkomunikasi satu sama
lain. Tersekat dan terisolir. Mungkin ini sudah merupakan salah satu taktik untuk menjauhkan Nardi dari sekelilingnya
dengan dalih seolah-olah menjaga kehormatannya.
Pengertian penghormatan apa ini?. Suatu pembungkaman dan isolasi secara halus!
Ternya dengan semboyan : Teguh – Tegak – Tegar kita tetap eksis walaupun harus melalui masa sulit yang panjang.
Semua inipun tidak lepas dari bimbingan, ayoman dan lindunganNYA serta kepercayaan dan keyakinan diri.
Karena itu,kata kata berhikmah seperti :‘Kepercayaan mempertebal keyakinan. Keyakinan mendorong
semangat dan semangat adalah modal untuk maju dalam mencapai kehendak dan tujuan baik‘.
Merupakan juga suara dari bathinnya yang selalu dihidupkannya..
Sejak Perguruan berusia muda, Nardi sudah berpesan; ringkasnya:
Saudara-saudara yang ingin mengikuti jejak dan membantu saya mencapai tujuan dan cita-cita, pasti tidak bisa
selamanya menerima jalan pemikiran saya. Mungkin suatu waktu timbul rasa beda dalam tujuan dan arah. Hal ini
wajar. Ibarat saudara-saudara saya ajak untuk mendaki gunung yang tinggi, terjal dan sulit. Yang diperoleh dari
segala susah payah ini terutama hanyalah rasa kebanggaan bernilai tinggi apabila secara bersama-sama sanggup
mencapai atau setidak-tidaknya mendekati puncak. Tetapi, sekiranya di tengah jalan saudara merasa tidak mampu lagi
melanjutkan perjalanan yang tidak ringan serta melelahkan ini, ragu atau bimbang, maka dengan senang hati dan
pengertian yang dalam saudara saya persilahkan menarik diri dengan baik-baik tanpa mengurangi rasa penghargaan
saya kepada saudara, tidak ada pemaksaan.Tetapi, janganlah sekali-kali saudara berusaha dengan paksa mengajak rekanrekan
lain yang masih ingin melanjutkan perjalanan bersama saya, apalagi mengganggunya dan menyabot serta
melukainya agar tidak bisa meneruskan perjalanan menuju puncak. Saat itu perbuatan saudara tidak bisa saya tolerir
dan terpaksa saya dorong untuk keluar dari rombongan agar tidak menjadi penghalang.
Nardi memberikan contoh cerita yang mengandung arti dalam dan untuk diresapi bersama saat itu.
Kisah di bawah ini diceritakan Nardi dengan tujuan untuk menjadi bukti nyata bahwa sikap mental karateka,
kepribadian dan cara membawa diri ditengah masyarakat sesuai Motto Perguruan: Karateka menghormati
masyarakat, masyarakat menghargai karateka dan Karateka menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
bukan sebaliknya. Apabila diterapkan secara sungguh-sungguh dan konsisten akan memberikan hasil balik yang
bermanfaat dalam kehidupan di tengah masyarakat.
Baru saja Perguruan lepas dari berbagai kejadian serta goyangan dari dalam yang didukung seluruh kekuatan, baik
kekuatan Nasional, Regional dan Internasional seperti dituturkan Nardi sebelumnya, muncullah di media cetak
yang ikut mendramatisir kejadian ini, bahkan melalui teror pribadi sepertii pengerusakan nama Perguruan yang
tertancap di dinding kantor Pusat. Segerombol pencari berita gadungan yang sengaja mencemooh dan memanasmanasi
Nardi dari belakang tempat duduk saat Nardi menghadiri Kejuaraan Karate di salah satu kota besar sekitar
tahun 1983. Terlihat mereka adalah wartawan sejati yang rasional dan obyektif seperti dikatakan Nardi sebelumnya
bercampur dengan pencari berita murahan untuk sensasi (Wartawan Amplop). Nardi, setelah Kejuaraan selesai,bersedia menghadapinya untuk berdialog dan menjelaskan segala persoalan dan salah persepsi pada mereka yang
menerima penjelasan dan suara-suara sepihak yang pasti penuh fitnah dan adu domba Nardi dengan press. Walau
waktu itu sudah amat larut malam, mereka yang asli wartawan akhirnya merasa puas dan berubah sikap setelah
mendengar penjelasan yang sebenarnya, yang gadungan meninggalkan sejak Kejuaraan selesai untuk cepat-cepat
membuat berita sensasionil. Bahkan ada yang mewancarai Nardi sebelumnya dan mengancam akan menulis besarbesar
berita tendensius serta menampilkan Nardi sebagai sosok rasialis yang bekerja hanya untuk satu golongan. Nardi
justru menantang untuk melakukannya dan sebelumnya cobalah bertanya pada orang-orang disekitar Nardi dulu.
Berita-berita yang miring, memojokkan tanpa tatakrama jurnalistik dalam cara pemberitaan akibat kuatnya
kebudayaan ‘Wartawan Anvlop‘ saat itu muncul. Semuanya sirna dan Perguruan tetap bernafas dan konsisten mandiri
dalam pemikiran dan tindakan, tidak gentar apalagi menghambakan diri pada pihak-pihak tertentu demi
mencari keselamatan diri. Perguruan yakin, dukungan para pencintanya akan sanggup mengusir kekuatan angkara
murka ini karena perbuatannya dilakukan tanpa pamrih.
Roda Perguruan berjalan terus. Demikian berat terasa percobaan demi percobaan dilewatinya. Akhir tahun 1990
Nardi mengundang para senior dan diluar dugaan mendapat perhatian, banyak yang hadir.Diperkirakan yang hadir
sekitar 70 orang, ternyata berlipat, sehingga persedian konsumsi menjadi tidak berimbang. Hal ini hanya untuk
menunjukkan bahwa; khususnya warga Perguruan yang senior masih menghargai undangan ke Pusat. Semoga hal
ini bisa dijadikan kebiasaan yang bermanfaat.
Dalam perjumpaan itu telah disampaikan himbauan agar bisa lebih aktif berpartisipasi karena di masa mendatang
Perguruan akan bertambah sulit apabila kesinambungan perkaderan Pelatih (sekarang:Pembina) mandeg dan tidak
bisa dilanjutkan akibat pendanaan yang makin sulit untuk melaksanakan rencana tersebut. Pelatih adalah ujung
tombak Perguruan. Dalam tiap kesempatan sejak itu Nardi selalu mengutarakan keadaan Perguruan yang akan sampai
pada masa kritis dan krisis sekiranya tidak ada usaha nyata untuk mengatasi hal tersebut. Tahun 1992, pada
Pesta Perak ke 25 tahun Perguruan, diadakan Jambore Nasional IV bertempat di Kawasan Air Terjun Coban
Rondo, Sebalo, Batu dan dihadiri warga dari berbagai Daerah. Inilah Jambore Nasional terakhir setelah
Jambore Nasional III tahun 1982 juga diadakan di Batu di Daerah Wisata Songgoriti, berati sudah berselang
sepuluh tahun antara kedua Jambore ini.
Malam harinya diadakan resepsi di Hotel Purnama Batu yang terletak dekat jalan menuju Selecta. Setelah Upacara
Tradisionil Peringatan Ulang Tahun Perguruan dan bersantap bersama selesai, diadakan lelang sistim Amerika
terhadap Pedang Samurai Nardi yang akhir tahun 1970 saat kembali dari berlatih di Tokyo Honbu dihadiahkan
oleh Master Oyama sebagai kenang-kenangan dan simbol kejantanan, terutama selama Nardi berada di
Tokyo Honbu seperti pernah ditulis di dalam salah satu majalah Tokyo Honbu yang memuat foto Nardi dengan
komentar dibawahnya: Nardi T.Nirwanto yang jantan dari Indonesia. Secara kebetulan Nardi juga menerima dari
sahabat korespondensi dari Nagoya, yaitu Atsushi Kanamori yang menjemputnya saat sampai di Haneda
Airport tahun 1970, sebuah boneka Geisha yang lemah gemulai dengan pesan jadilah orang yang perkasa
tetapi selalu bersikaplah halus.
Lelang Pedang Samurai ini semula diperkirakan bisa mencapai Rp.10.000.000.-, tanpa terduga pada akhirnya
terkumpul Rp.57.000.000. Hasil yang luar biasa, semuanya dari anggota dan simpatisan Perguruan dan yang
mengharukan hingga membuat Nardi bercucuran air mata ialah; Pedang Samurai ini oleh pemenangnya, Bapak
Jimmy beserta Ibu yang dermawan dari DKI Jaya secara terbuka dikembalikan lagi kepada Nardi untuk tetap
disimpan sebagai kenang-kenangan berharga dari Master Oyama. Mulia benar hati dermawan ini sehingga
Nardi bercucuran air mata saat menerima kembali Samurai tersebut di atas panggung.
Akhirnya, hasil ini digunakan oleh Nardi membangun Rumah Makan Pelangi setelah diijinkan oleh ibunya untuk
dibangun diatas bekas rumah di Jl.Panglima Sudirman No.07 Batu.
Rumah Makan ini dimaksud Nardi bukan untuk dikerjakan oleh dirinya, tetapi akan ditinggalkan untuk Raynard Raim
dan keluarganya sekiranya kelak Nardi sudah harus kembali meninggalkan ini semua. Saat itu tentu keluarganya
memerlukan hasil untuk kehidupan sehari-hari. Siapa yang akan menjaminnya kelak! Rumah Makan ini diberi nama
‘Pelangi‘ karena pada tahun 1984 Perguruan mengadakan ‘Kampanye Pelangi‘. Tujuannya, mengumpulkan dana untuk
memperbaiki dan membangun Pusat yang lebih representative.Kampanye ini tidak mencapai hasil yang diharapkan.
Mengapa kampanye ini dinamakan ‘Pelangi ?‘. Pelangi terdiri dari 7 warna, yaitu:Merah, Jingga, Kuning,
Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Ketujuh warna ini diaduk/ diputar dengan cepat akan menampilkan warna putih bersih.
Keadaan ini secara simbolis berarti suatu tanda kebersamaan, apabila bersatu padu menjadi tujuan mulia
yang disimbolkan dengan warna putih bersih. Kampanye dan usaha lain untuk merealisir cita-cita ini
masih jauh dari sukses dan bahkan pada sekitar tahun 1996, gedung Pusat dimana A.Yos. Dojo berada, dengan hati
sangat tersiksa, berat dan sedih, terpaksa dijual karena keadaan yang mustahil dihindari dan tidak ada jalan lain
sebagai penggantinya. Suatu keterpaksaan yang menyakitkan bathin Nardi dan jauh dari cita-cita sebelumnya. Ini juga
salah satu kejadian yang amat sakit. Melepas Gedung Pusat dengan keterpaksaan tinggi. Harap suatu saat R.M. Pelangi
ini bisa sukses yang akan dirubah menjadi Dojo Pusat diatasnya.
Sejak peringatan Pesta Perak Perguruan, muncul suara beberapa senior agar yang muda-muda diberi wewenang
untuk memanage jalannya Perguruan dengan berbagai alasan dan pemikiran yang sebenarnya rasional dan logis khususnya
bidang management. Pikiran-pikiran dan kemampuan kaum muda diakui dan memang diharapkan bisa membawa perubahan nyata daripada jalan pemikiran Nardi yang sudah terlampau tradisional dan ketinggalan jaman. Pemikiran
kaum muda akan lebih lincah dan up to date, sesuai dengan kemajuan dan perkembangan jaman. Gagasan ini memang beralasan.
Nardi menyadari hal ini secara utuh apalagi penghimpunan dana untuk membiayai jaring-jaring kesinambungan
pembinaan dan pengkaderan para pelatih muda. Sekali lagi, Pembina adalah ujung tombak Perguruan, tanpanya semua
ini laksana berdiri di awang-awang, mengambang laksana pada manusia yang berdaging tapi tanpa otot dan tulang. Mungkinkah?
Saran-saran yang baik ini menjadi pemikiran Nardi dan pertimbangan yang cukup lama karena Nardi tidak hanya
melihat dari sudut positifnya saja, tetapi bahkan sudut negatifnya yang mungkin muncul di kemudian hari. Banyak
faktor yang menjadi pertimbangannya, bukan sesuatu yang mudah untuk diputuskan.
Yang paling dikuatirkan Nardi adalah; apabila kekompakan diantara para senior yang semula terjalin dengan baik, setelah
mengalami suatu peralihan, menjadi terganggu. Hal ini akan sangat menakutkan dan akan memperlemah eksistensi dan
daya tahan Perguruan. Sekitar secara keseluruhan tujuh tahun Nardi mempertimbangkan hal ini dari segala segi
dan sudut pandang, sementara itu sambil melihat suasana. Memang bisa dikatakan kuno sesuai dengan management
modern dan terlampau lama tetapi begitulah jalan pikiran orang tua yang sudah merasakan pahit getir keberadaannya
dalam memimpin Perguruan ini. Semua ini karena Perguruan Seni Beladiri menurut pandangan dan keyakinan Nardi
bukan suatu Perusahaan. Dengan memasang iklan datanglah berduyun-duyun pelamar yang expert sesuai bidang masingmasing.
Bekerja dan digaji sesuai prestasinya dan bidangnya. Perguruan Karate lain. Bukan sekedar mencari dan memilih
orang pintar tetapi yang bisa diterima sebagian terbesar seluruh isi Perguruan. Masa transisi ini akan sangat sensitif
karena setelah berpuluh tahun dibawah bimbingan pendirinya dan akan mudah menimbulkan perbandingan -
perbandingan. Barangkali orang lain tidak akan tahan dan tidak sabar melihat ini, apalagi berada didalamnya. Demikian
banyaknya yang dialami Nardi kejadian yang tidak ringan selama memimpin Perguruan ini. Akibat ini semua, Nardi
tidak bisa lepas begitu saja melihat hal-hal yang menjurus kepada kehancuran. Apabila harus hancur dan tenggelam,
bagaikan seorang nahkoda kapal, maka Nardi merasa lebih baik tenggelam bersama kapalnya daripada melepas
tanggung jawab dengan menyaksikan ini semua. Akibatnya pun Nardi sangat sayang akan apa yang telah dirintisnya,
dikembangkan, diperjuangkan dan sebisa-bisanya atau setidak-tidaknya mempertahankan keberadaan Perguruan
walau terpaksa harus mengecil. Perguruan ini merupakan satu-satunya kebanggaan yang dimilikinya bersama dalam
persaudaraan dan persahabatan dengan pribadi-pribadi yang tulus dan ikhlas yang tetap perduli dan mendukungnya.
Akhirnya pada tanggal 26 Juni 1999 dideklarasikan pembentukan Presidium Perguruan dan Dewan Pertimbangan Perguruan, sebagian besar khusus Pimpinan dan Staf Inti dari Surabaya, Jawa Timur. Ini semua karena sebagai kenyataan tumbuhnya Perguruan juga dari Batu, Malang, Jawa Timur yang sebenarnya merupakan basis Perguruan, lagipula dekat dengan Pusat sebagai Pilot Project pertama kali sejak 1967. Bukan karena mengistimewakan Jawa Timur, tetapi karena kenyataan sejarah tumbuhnya Perguruan. Satu segi yang kurang diperhitungkan dari pembentukan Presidium dan Dewan Pertimbangan Presidium ini ialah; belum tepatnya segala pertimbangan dengan kenyataan yang ada,
disamping kelemahan-kelemahan lain yaitu; waktu luang yang bisa disumbangkan Pengurus karena rata-rata
Pengurus Inti adalah mereka yang waktunya terbatas (sibuk) dalam membina karier pribadinya sehingga pencurahan
sebagian waktunya untuk Perguruan sangat terbatas dan tidak bisa maksimal. Lagi pula kurangnya kefahaman akan
seluk beluk dan segala liku-liku Perguruan yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, komunikasi yang
intensif dan luwes serta mengetahui dan mengerti apa yang harus diprioritaskan. Pada saat pendelegasian wewenang
ini, seolah-olah semuanya dalam kegelapan. Perlu memang melakukan perubahan-perubahan tapi tidak mendadak
apalagi merubah struktur ciri-ciri khas yang sudah berlaku puluhan tahun. Karena selama 32 tahun penanganan
langsung oleh Nardi, maka perlu penyesuaian secara perlahan dan jauh lebih baik dari sebelumnya sehingga
menimbulkan respek dan kepercayaan. Ini barangkali yang kurang menjadi proyek utama ‘First things first’ kata
Stephen R.Cofey. Saat Nardi menangani Perguruan langsung, sepenuhnya memang untuk Perguruan, tiada kerja
dan usaha lain. Sulit untuk orang lain berbuat demikian, bahkan 30% saja dari waktunya sulit untuk bisa dikorbankan.
Hal ini merupakan hambatan dan kendala yang tidak kecil. Memang kesulitan dan keadaan ini bisa difahami. Manusia
kini lebih dituntut untuk berjuang keras, tidak boleh bersantai-santai dalam membangun kariernya akibat
tantangan hidup jauh lebih banyak dan berat. Siapa bersedia memikirkan tujuan lain dengan intensif apabila
tuntutan kepada diri sendiri sudah demikian banyak memakan pikiran dan energi. Dalam Perguruan Seni Beladiri perlu adanya dialog yang timbal balik (interaksi), tidak ada dan tidak berlaku istilah ‘perintah‘ tetapi sebaiknya berupa ‘permintaan‘ dan justru sedapat mungkin sebuah ‘permohonan‘ atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab karena dirinya merasa terpanggil. Hal ini sulit dilakukan dan membutuhkan ketajaman indera terselubung untuk meraba dan melaksanakannya. Salah satu ganjalan paling depan yang masih kurang dihayati.
Akibatnya, dibawah Presidium menjelang tiga tahun usianya tidak terlihat adanya tunas-tunas harapan dan
masa depan yang lebih cerah, padahal Presidium diberi waktu tujuh tahun untuk mengelola Perguruan dengan
point- point penting yang diharapkan Pusat secara sistimatis dan terprogram bisa dilaksanakan.
Tiada usaha bisa berjalan lancar dan terarah tanpa adanya dana yang memadai dan sumber daya manusia,
khusus pada Perguruan ini yang sesuai dengan maksud dan tujuan semula. Istilah Pelatih yang sejak masa
Pembentukan Presidium Perguruan diganti oleh Nardi menjadi ‘Pembina’ seperti diceritakan sebelumnya,
merupakan sesuatu yang harus mendapat prioritas utama. Dalam mencari seorang calon dan membinanya
hingga menjadi Pembina yang baik sesuai kriteria lebih sulit dibanding mencari seorang Sarjana untuk kebutuhan
bisnis atau usaha besar lain. Sarjana bisa hanya dengan memasang iklan beserta kriterianya. Mencari Pembina
tidak semudah itu. Maka, karena rasa tanggung jawab dan sayangnya Nardi kepada Perguruan dan semua ini
merupakann kesalahan serta kelemahannya, diputuskan pada Pertemuan tanggal 13 Mei 2002 di Pusat Batu,
tepat pada bulan peringatan 35 tahun berdirinya Perguruan; yaitu: Presidium Perguruan dan Dewan
Pertimbangan Presidium dibekukan, bukan dibubarkan. Segalanya kembali ke Pusat dan Daerah memperoleh otonomi yang lebih luas sesuai dengan apa yang dilakukan saat kepengurusan Presidium Perguruan berlangsung. Pimpinan dan organ Presidium
juga bisa menyadari karena mereka adalah orang-orang yang penuh pengertian dan loyalitas tinggi.
Tanggal 28 September 2002, diselenggarakan Kejuaraan Nasional ke 31 sejak berdirinya Perguruan
termasuk Sirkit Nasional yang diselenggarakan dua kali dalam setahun dan berlangsung beberapa tahun.
Kejuaraan Nasional ini diselenggarakan di DKI Jaya dan semoga sebagai titik awal kebangkitan baru II bagi
Perguruan menuju perkembangan yang lebih baik. Semoga!. KEJUARAAN NASIONAL KE 31 ini sekaligus
sebagai penutup tahun 2002 pada saat Perguruan berusia 35 tahun.
Demikianlah kejadian-kejadian yang cukup mendebarkan bagi Nardi selama ini. Walau masih demikian banyak lagi
yang belum sempat digoreskan dalam sebuah kisah Semua kisah ini adalah nyata sesuai dengan apa yang terjadi. Baik maupun buruk. Tidak ada rekayasa samasekali. Semua bisa dipertanggung jawabkan kata Nardi. Inti dan maksud serta tujuan dari pembeberan kejadian-kejadian ini ke dalam sebuah penyampaian melalui tulisan sederhana ini ialah:
Menunjukkan secara terbuka dan terus terang bahwa tidak selancar dan semudah seperti apa yang diperkirakan orang dalam
membangun dan mempertahankan Perguruan ini.
Rawe rawe rantas malang malang putung. Semoga Tuhan Sang Pemurah melindungi kita semua..
|
|
www.wirata.com

Plang jalan menuju ke makam ke-8 Karateka Pahlawan Cinta Kasih, Gg. Karate, diberikan oleh penduduk sekitar untuk menghormati mereka yang gugur.

Sebuah batu marmer besar yang diukir nama kedelapan karateka dan sedikit memori peristiwa yang ditancapkan kuat pada sebuah batu karang.
Untuk kritik dan saran: HUBUNGI REDAKSI |